
SAMOSIR, Redmol.id– Festival Tao Toba Jou-Jou
2026 memang sudah selesai pada Minggu (9/8/2026). Panggung boleh dibongkar, stand UMKM boleh dibereskan, tetapi cerita dari Samosir ternyata belum semuanya selesai.
Festival yang berlangsung selama empat hari itu mencatat transaksi digital mencapai Rp6,05 miliar. Sebanyak 85 pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dari berbagai kabupaten/kota di Sumatera Utara ikut terlibat, termasuk pelaku UMKM dari sembilan kecamatan di Kabupaten Samosir.
Angka tersebut tentu menggembirakan. Namun, ada satu cerita yang agak terlambat saya upload. Bukan karena lupa. Bukan pula karena kopi habis. Kopi masih ada.
Cerita ini tertahan karena perjalanan di Samosir terlalu banyak godaan untuk berhenti, melihat-lihat, dan tentu saja mencari sesuatu yang bisa dibawa pulang sebagai cerita.
Salah satunya ketika perjalanan membawa saya menuju Danau Sidihoni, Kecamatan Ronggur Nihuta.
Danau Sidihoni memiliki keunikan tersendiri. Danau ini berada di Pulau Samosir, sementara Pulau Samosir berada di tengah Danau Toba. Karena itu, Sidihoni kerap disebut sebagai “danau di atas danau.”
Kalau dipikir-pikir, alam memang kadang punya selera humor sendiri. Sudah ada Danau Toba, masih dibuatkan danau lagi di atas pulaunya. Kita yang melihat tinggal mengagumi sambil bertanya, “Ini alam sedang serius atau sedang menguji pelajaran geografi?”
Tetapi perjalanan menuju Sidihoni ternyata menyimpan kejutan lain.
Mata saya justru tertahan melihat beberapa pohon kopi Arabika yang tumbuh tinggi di kawasan tersebut. Pohonnya menjulang, jauh dari bayangan sebagian orang tentang tanaman kopi yang pendek dan mudah dipetik.
Setelah diperhatikan, kopi itu adalah Arabika Typica.
Typica dikenal sebagai salah satu varietas Arabika tua yang memiliki peranan penting dalam sejarah perkembangan kopi dunia. Tanamannya tumbuh tinggi, produksinya relatif rendah, dan cukup rentan terhadap hama serta penyakit.
Justru karena itulah keberadaannya menjadi menarik.
Typica bukan sekadar tanaman yang buahnya dipanen untuk kemudian diseduh. Di baliknya ada sejarah panjang perjalanan kopi dan pengetahuan petani yang terus menjaga varietas tersebut tetap tumbuh.
Dari sisi cita rasa, Typica dikenal memiliki karakter manis alami, keasaman yang cerah dan seimbang, serta dapat menghadirkan nuansa rasa seperti karamel, cokelat, jeruk hingga gula aren.
Di Samosir, kopi Arabika Typica berkembang di sejumlah wilayah, antara lain Kecamatan Ronggur Nihuta, Pangururan dan Palipi. Ronggur Nihuta menjadi salah satu kawasan dataran tinggi penghasil kopi Arabika, termasuk budidaya yang berkembang di Desa Paraduan.
Artinya, ketika wisatawan datang menikmati keindahan Danau Sidihoni, sebenarnya ada cerita lain yang tumbuh di sekitar perjalanan mereka.
Bukan hanya panorama.
Ada kebun kopi. Ada petani. Ada varietas tua. Ada proses panjang. Dan tentu saja ada peluang ekonomi yang bisa dikembangkan.
Kopi Pulo Samosir sendiri telah memiliki perlindungan Indikasi Geografis sejak 2018. Identitas tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kekhasan kopi yang berasal dari wilayah Samosir.
Di titik inilah cerita Festival Tao Toba Jou-Jou 2026 menjadi semakin menarik.
Festival berbicara tentang UMKM, transaksi digital dan perputaran ekonomi. Sementara perjalanan ke Sidihoni memperlihatkan sumber lain dari kekuatan ekonomi lokal: tanah, petani, komoditas, budaya dan identitas daerah.
Festival boleh berlangsung empat hari.
Tetapi kopi tidak mengenal sistem kerja empat hari.
Ia ditanam, dirawat, menunggu musim, dipanen, diproses, disangrai, kemudian baru masuk ke dalam cangkir.
Prosesnya panjang. Sama panjangnya dengan cerita petani yang menjaga tanaman tetap hidup.
Karena itu, ketika panggung Festival Tao Toba Jou-Jou sudah selesai dan para pelaku UMKM kembali menjalankan aktivitas masing-masing, cerita Samosir sesungguhnya belum berakhir.
Kadang cerita terbaik justru ditemukan setelah acara selesai.
Ketika kendaraan meninggalkan keramaian. Ketika mata sempat menoleh ke kiri dan kanan. Ketika sebuah pohon kopi yang menjulang tiba-tiba membuat perjalanan berhenti sejenak.
Di perjalanan menuju Danau Sidihoni, saya menemukan satu cerita itu.
Danau di atas danau.
Kopi di atas bukit.
Dua-duanya sama-sama punya cerita tentang Samosir.
Dan Samosir, rupanya, memang punya cara sendiri membuat orang pulang membawa cerita.
Kalau kebetulan membawa kopi juga, ya syukur.
Sebab bagi orang seperti saya, pulang dari Samosir tanpa membawa cerita kopi itu seperti datang ke warung kopi tetapi lupa pesan kopi.
Sama-sama bisa pulang.
Tapi rasanya ada yang kurang.
Awaluddin
