Mimpi Gadis Desa yang Berakhir Duka: Susi Yanti Sinaga Diduga Korban Scam di Kamboja

Admin RedMOL
0


Tapsel, 13/3/2026, Redmol. Id
Di sebuah sudut tenang di Desa Rawang Kao, Kecamatan Lubuk Dalam, Kabupaten Siak, Provinsi Riau, duka menyelimuti sebuah rumah sederhana. Rumah yang biasanya dipenuhi suara percakapan keluarga dan harapan akan masa depan kini terasa hening. Di dalamnya tinggal sebuah keluarga yang tengah menahan pilu karena kehilangan seseorang yang sangat mereka cintai. Harapan itu dulu bernama Susi Yanti br Sinaga.

Susi adalah gadis muda kelahiran tahun 2003. Seperti banyak anak kampung lainnya, ia tumbuh dengan kesederhanaan, tetapi menyimpan mimpi yang besar. Ia ingin membantu orang tuanya, meringankan beban keluarga, dan memperbaiki kehidupan mereka yang serba terbatas. Dalam usia yang masih sangat muda, Susi memutuskan merantau demi mencari pekerjaan di luar negeri.

Kesempatan itu datang melalui seorang kenalan bernama Bram Silitonga. Kepada keluarganya, Susi berpamitan akan bekerja di Malaysia. Ia berangkat dengan penuh harapan dari Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru pada 12 Desember 2025. Kepergiannya diiringi doa dan harapan dari kedua orang tuanya.

Sang ayah, Johanes Sinaga, masih mengingat jelas pesan terakhir yang ia sampaikan kepada putrinya sebelum berangkat.

“Kalau sudah sampai, kabari ya, Nak. Jaga diri baik-baik di perantauan.”

Beberapa hari setelah keberangkatannya, Susi memang menelepon keluarga. Ia mengatakan telah sampai dengan selamat. Kabar itu membuat keluarga di kampung merasa lega. Dalam salah satu panggilan video, Susi bahkan sempat memperlihatkan sejumlah uang dolar yang katanya merupakan hasil kerjanya. Keluarga percaya bahwa Susi benar-benar telah mendapatkan pekerjaan yang baik.

Namun waktu berjalan, dan komunikasi mulai terasa berbeda. Keluarga hanya bisa menerima telepon dari Susi, tetapi setiap kali mereka mencoba menghubunginya kembali, panggilan itu tak pernah tersambung. Keganjilan itu perlahan menumbuhkan kekhawatiran di hati keluarga.

Kekhawatiran itu berubah menjadi kecemasan besar ketika Bram (diduga pacar Susi)  mengabarkan bahwa Susi jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Ia meminta keluarga mengirimkan uang untuk biaya pengobatan. Tanpa berpikir panjang, keluarga berusaha mencari dana. Mereka mengumpulkan uang sedikit demi sedikit, bahkan meminjam dari kerabat. Demi menyelamatkan putri tercinta, sekitar Rp90 juta berhasil mereka kirimkan.

Namun kenyataan yang kemudian terungkap jauh lebih menyakitkan. Susi ternyata tidak berada di Malaysia seperti yang selama ini diyakini keluarga. Ia berada di Phnom Penh, Kamboja, dan diduga bekerja di lingkungan perusahaan yang berkaitan dengan jaringan penipuan daring atau scammer.

Dalam beberapa foto dan panggilan video yang sempat beredar, kondisi Susi terlihat sangat memprihatinkan. Ia terbaring lemah di ranjang rumah sakit, dengan selang medis terpasang di hidung dan mulutnya. Tubuhnya tampak kurus, wajahnya pucat, dan matanya nyaris tak lagi memancarkan harapan.

Pemerintah melalui Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Riau menerima laporan dari keluarga dan mulai berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kamboja, untuk membantu penanganan kasus tersebut.

Namun takdir berkata lain.

Setelah beberapa hari menjalani perawatan dalam kondisi kritis di ruang ICU Rumah Sakit Khmer Soviet Friendship di Phnom Penh, nyawa Susi akhirnya tidak dapat diselamatkan. Pada Minggu pagi, 8 Maret 2026, gadis muda itu dinyatakan meninggal dunia.

Kabar duka itu menjadi pukulan yang sangat berat bagi keluarga di Lubuk Dalam. Harapan untuk melihat Susi pulang dengan membawa masa depan yang lebih baik kini berubah menjadi luka yang mendalam.

Ironisnya, penderitaan keluarga belum berakhir. Hingga kini, jenazah Susi masih berada di Kamboja dan belum dapat dipulangkan ke Indonesia. Biaya rumah sakit dan proses pemulangan jenazah yang disebut mencapai sekitar Rp300 juta menjadi beban yang sangat berat bagi keluarga yang hidup dalam keterbatasan.

Bagi keluarga sederhana di kampung itu, jumlah tersebut terasa hampir mustahil untuk dipenuhi.

Dengan hati penuh harap, keluarga almarhumah Susi Yanti br. Sinaga memohon uluran tangan masyarakat Indonesia untuk membantu pemulangan jenazahnya ke kampung halaman di Kabupaten Siak, Riau. Susi sebelumnya jatuh sakit dan meninggal dunia setelah menjalani perawatan di luar negeri. Kini keluarga harus menanggung biaya rumah sakit dan pemulangan jenazah yang sangat besar. Bantuan dapat disalurkan melalui Bank Mandiri No. Rekening 108-00-1384-1078 a.n. Johanes Sinaga. Sekecil apa pun bantuan sangat berarti agar Susi bisa dimakamkan di tanah kelahirannya.

Sebab bagi mereka, setelah semua penderitaan yang terjadi, satu-satunya harapan yang tersisa hanyalah satu: membawa Susi pulang ke rumah, agar ia bisa dimakamkan dengan layak di kampung halamannya, di tanah tempat ia dulu tumbuh, bermimpi, dan dicintai. 
(IAB)

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)