Tragedi Desa Tandihat Hilang dari Peta Lama Akibat Longsor

Admin RedMOL
0

Tapanuli Selatan, Sumut , 11/1/2025, Redmol.id – Desa Tandihat, sebuah desa dengan sejarah panjang di Kecamatan Angkola Selatan, kini menjadi saksi bisu bencana alam yang mengguncang kehidupan warganya. Desa yang lahir dari pemekaran Desa Sisundung pada tahun 1940 ini, dikenal dari kayu besar yang dulu melimpah di wilayahnya—“tandihat” dalam bahasa Batak Angkola, menjadi simbol kekayaan alam desa tersebut. Marga Dalimunthe tercatat sebagai pembuka huta pertama, dan sejak itu desa ini hidup dengan pertanian sebagai mata pencaharian utama.


Namun, semua itu berubah pada akhir 2025. Setelah hujan deras yang melanda, tanah di Desa Tandihat mulai bergerak, memicu longsor, retakan tanah, dan amblasnya permukaan di sejumlah titik. Sekitar 186 kepala keluarga, atau ±630 jiwa, terpaksa meninggalkan rumah mereka karena desa dinyatakan tidak aman untuk dihuni.

“Rasanya seperti tanah ini hidup, bergeser dan menelan rumah kami. Kami hanya bisa lari menyelamatkan diri,” ujar Siti, salah satu warga yang kini tinggal di lokasi pengungsian sementara di Afdeling V Marpinggan, Dusun Tangsi, Desa Marpinggan.

Pergerakan tanah yang meluas memaksa 186 kepala keluarga meninggalkan rumah mereka. SD Negeri No. 100207 Tandihat, yang telah mengajar generasi desa sejak 1978, ikut rusak, bersanding dengan rumah ibadah dan kantor desa yang hancur. Semua itu menjadi saksi bisu kehancuran yang menimpa desa yang berdiri di ketinggian 563 meter dari permukaan laut.

Pemerintah bergerak cepat. Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan Pasaribu, meninjau lokasi dan menegaskan: “Keselamatan warga adalah prioritas utama. Kami berkoordinasi dengan BNPB dan kementerian terkait untuk relokasi segera.” Dukungan pun datang dari berbagai pihak, termasuk TNI AD, organisasi kemanusiaan, dan pemerintah provinsi.

Rencana relokasi diarahkan ke Desa Perkebunan Marpinggan, 5–6 km dari Tandihat, dengan pembangunan hunian tetap di lahan seluas 3,7 hektare. Dua hektare di antaranya milik warga yang akan diganti rugi oleh pemerintah, sehingga warga dapat membangun kehidupan baru dengan lebih aman.

Kini, warga Tandihat menunggu dengan harap di lokasi pengungsian, sambil menerima bantuan sosial dan dukungan berkelanjutan. Desa yang dulu dikenal karena kayu besar dan tanah subur ini kini menjadi simbol ketangguhan menghadapi bencana alam: sebuah perjuangan untuk bertahan hidup dan membangun kembali kehidupan di tempat yang lebih aman.

“Desa kami mungkin hilang dari peta lama, tapi tidak dari hati kami,” kats Dalimunthe, seorang warga yang menatap sisa rumahnya dengan mata berkaca-kaca.

Desa Tandihat, hutan kayu besar yang dulu tenang, kini mengajarkan manusia tentang kehancuran dan harapan.
(IAB)

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)