Tragedi Banjir Bandang di Tapsel: Sawah Petani Hilang, Kehidupan Terancam

Admin RedMOL
0


Tapanuli Selatan, 10 Januari 2026, Redmol.id ~ Di Tapanuli Selatan, hujan turun tak henti-henti pada akhir November 2025, awalnya disambut dengan harapan bahwa tanah akan menjadi subur. Namun, harapan itu berubah menjadi kekhawatiran ketika derasnya hujan membawa “tamu tak diundang”: banjir bandang dan tanah longsor yang menyapu sawah-sawah milik para petani, meninggalkan kerusakan yang luas dan membuat masyarakat setempat terpukul oleh bencana yang tak terduga.

Sawah yang biasanya menjadi ladang padi kini tertutup lumpur, pasir, batu, bahkan gelondongan kayu, mengubur harapan para petani yang menggantungkan hidup dari tanah tersebut. Musim tanam awal 2026 yang semestinya membawa optimisme justru berubah menjadi mimpi buruk bagi ribuan petani, termasuk di Saba Oma, Kecamatan Sipirok, di mana tanah yang dahulu lembut dan subur kini tertimbun sirtu dan bebatuan setebal beberapa meter sehingga tak memungkinkan lagi untuk ditanami. Para petani hanya bisa menatap lahan mereka dengan pasrah, sementara bendungan dan saluran irigasi di berbagai titik turut terbongkar dan rusak parah akibat derasnya banjir, memperparah kondisi pertanian yang sudah lumpuh.

“Ini bukan cuma soal padi hilang, tapi sumber penghidupan kami,” kata salah seorang warga. “Kalau sawah tidak bisa ditanami, bagaimana kami bertahan hidup?”

Tidak hanya di Sipirok. Kecamatan Sayur Matinggi, Batang Angkola, Angkola Muaratais, dan Batangtoru juga mengalami hal yang sama. Total, 536 hektare sawah di empat kecamatan dan 36 desa/kelurahan terdampak, dengan Sipirok menjadi wilayah terdampak terluas, sekitar 249 hektare.

Plt Kepala Dinas Pertanian Tapanuli Selatan, Taufik Batubara, menjelaskan keterbatasan pemerintah daerah. “Untuk pengerukan material banjir dibutuhkan alat berat, dan kami tidak punya. Saat ini, kami hanya bisa melaporkan ke Kementerian Pertanian. Mereka sudah turun langsung meninjau,” ujarnya.

Meski situasi suram, semangat warga tetap menyala. Wajah-wajah lelah namun tegar, berharap sawah bisa kembali hijau. Waktu tanam terus berjalan, tapi sawah tetap terkunci di bawah lumpur dan pasir—seolah bumi Tapanuli Selatan menangis.

Bagi ribuan petani, ini bukan hanya soal padi yang hilang, tapi perjuangan bertahan hidup. Sambil menunggu kepastian dari pemerintah pusat, mereka tetap menatap masa depan dengan harapan, berharap badai ini segera berlalu dan sawah bisa menari lagi di bawah sinar matahari.
(IAB)

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)