Tapanuli Selatan, 8/1/2026,Redmol.Id
Di tengah sisa lumpur dan bangunan yang belum sepenuhnya pulih, tawa anak-anak kembali terdengar di sejumlah wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel). Perlahan tapi pasti, kegiatan belajar mengajar di daerah terdampak banjir bandang dan longsor mulai berjalan kembali. Meski belum sepenuhnya normal, semangat untuk memastikan anak-anak tetap bisa bersekolah tak pernah surut.
Sebagai solusi sementara, sebanyak 10 tenda sekolah darurat telah dipasang di empat kecamatan. Tenda-tenda tersebut kini menjadi ruang belajar bagi siswa dari sekolah-sekolah yang bangunannya rusak akibat bencana. Di bawah terpal sederhana, papan tulis kembali berdiri, dan harapan pun ikut tumbuh.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Tapsel, Efrida Yanti Pakpahan, menyebut bencana yang terjadi pada akhir November 2025 itu berdampak cukup luas terhadap dunia pendidikan, mulai dari jenjang PAUD hingga SMP.
“Bencana tersebut berdampak pada 18 TK/PAUD, 24 SD, dan 5 SMP. Saat ini sebagian sekolah sudah bisa kembali melaksanakan pembelajaran,” ujar Efrida saat dihubungi, Selasa (6/1/2026).
Namun, tidak semua sekolah bisa langsung digunakan. Beberapa bangunan masih dalam kondisi yang belum memungkinkan untuk ditempati. Untuk mengatasi hal tersebut, Dinas Pendidikan Tapsel menerapkan berbagai skema, mulai dari pembelajaran di tenda darurat hingga memanfaatkan sekolah terdekat dengan sistem belajar bergilir atau shift.
“Beberapa sekolah masih belajar di tenda-tenda darurat, sementara sebagian lainnya memanfaatkan sekolah terdekat dengan model pembelajaran shift,” jelasnya.
Efrida merinci, dari 10 tenda sekolah darurat yang digunakan, lima tenda merupakan bantuan dari Kementerian Pendidikan, sementara lima lainnya berasal dari BPBD. Tenda-tenda itu tersebar di Kecamatan Angkola Sangkunur sebanyak dua tenda, Angkola Selatan satu tenda, Batangtoru enam tenda, dan Muara Batangtoru satu tenda.
Langkah ini diambil demi memastikan hak peserta didik tetap terpenuhi, meski kondisi pascabanjir masih dalam tahap pemulihan, terutama pada fasilitas sekolah yang rusak cukup parah.
Di tengah duka yang belum sepenuhnya sembuh, aktivitas belajar di tenda-tenda darurat menjadi simbol keteguhan: bahwa pendidikan tetap berjalan, bahkan di tengah keterbatasan.(IAB)
