TAPANULI SELATAN, 6/1/2025 | Redmol.Id
Di balik bentangan pegunungan yang sunyi di ujung Kecamatan Arse, Kabupaten Tapanuli Selatan, Desa Dalihan Natolu masih bergulat dengan luka mendalam pascabencana banjir dan longsor yang menerjang wilayah tersebut pada akhir November 2025 lalu. Hingga kini, dampak bencana itu belum sepenuhnya pulih, meninggalkan desa dalam kondisi terisolasi dan gelap gulita.
Desa Dalihan Natolu merupakan hasil penggabungan tiga kampung, yakni Tanoponggol, Nangguluon, dan Aeknabara. Berdasarkan data BPS tahun 2020, desa ini dihuni oleh 256 jiwa. Letaknya yang berada di kawasan pegunungan dengan ketinggian sekitar 1.109 meter di atas permukaan laut, tepat di perbatasan Kecamatan Arse dan Kabupaten Padang Lawas Utara, menjadikan Dalihan Natolu sebagai salah satu desa paling terpencil di wilayah tersebut. Jarak tempuh menuju ibu kota kecamatan mencapai sekitar 33 kilometer, dengan medan yang berat dan sulit dilalui.
Mayoritas penduduk Desa Dalihan Natolu menggantungkan hidup sebagai petani. Dengan latar belakang kehidupan sederhana, masyarakat yang sebagian besar beragama Islam ini bertahan hidup dari hasil bumi serta ikatan sosial yang kuat melalui semangat kebersamaan dan gotong royong.
Namun, bencana alam yang melanda akhir November lalu seolah memutus urat nadi kehidupan desa, khususnya di Dusun Tanoponggol. Jalan utama menuju dusun tersebut rusak parah akibat longsor, membuat akses keluar-masuk desa menjadi sangat terbatas. Kondisi ini semakin diperparah dengan rusaknya pipa Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) yang selama ini menjadi satu-satunya sumber penerangan warga.
Akibatnya, sejak bencana terjadi hingga saat ini, Dusun Tanoponggol mengalami pemadaman listrik total. Saat malam tiba, desa seakan tenggelam dalam kegelapan. Aktivitas warga terganggu, anak-anak kesulitan belajar, dan rasa aman pun ikut terancam. Warga hanya mengandalkan penerangan seadanya untuk bertahan di tengah keterbatasan.
Kasi Kemas Kecamatan Arse, Saprianto Hutasuhut, saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon menyampaikan bahwa sejumlah bantuan telah disalurkan kepada warga terdampak.
“Pasca banjir sampai saat ini, Desa Dalihan Natolu sudah mendapatkan bantuan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Tapanuli Selatan berupa beras dan minyak goreng. Selain itu, Polres Tapanuli Selatan juga memberikan bantuan semen untuk memperbaiki jalan yang rusak. Masyarakat Kecamatan Arse turut memberikan bantuan uang untuk membantu warga Desa Dalihan Natolu,” ungkapnya.
Meski bantuan awal telah diterima, warga berharap perhatian tidak berhenti sampai di situ. Mereka mendambakan penanganan lanjutan yang lebih konkret, terutama perbaikan infrastruktur jalan serta pemulihan jaringan PLTMH agar roda kehidupan dapat kembali berputar normal.
Terpencil, jauh dari pusat pemerintahan, dan minim sorotan, Desa Dalihan Natolu seakan nyaris terlupakan. Namun di tengah keterasingan dan gelapnya malam tanpa listrik, harapan warga tetap menyala. Dengan semangat gotong royong dan ketabahan, mereka menanti uluran tangan berkelanjutan dari pemerintah agar desa di tengah pegunungan ini tidak terus terbenam dalam gelap dan keterisolasian. (IAB)
