Kopi Samosir: Secangkir Rasa, Segunung Cerita dari Tanah Para Raja

Admin RedMOL
0
                        Poto Kopi Samosir

PANGURURAN, Redmol.id– Ada-ada saja pengalaman ngopi di Festival Kopi Tanah Para Raja. Berniat menikmati V60, beralih ke kopi tubruk, tetapi yang datang justru espresso.

Pengalaman itu terjadi saat berkunjung ke Festival Kopi Tanah Para Raja di Waterfront City Pangururan, Kabupaten Samosir, Sabtu pagi (8/8/2026). Festival tersebut merupakan bagian dari rangkaian Festival Tao Toba Jou-Jou 2026.

Pagi itu, saya langsung mendatangi Stand MPIG Kopi Samosir. Niatnya sederhana, mencari secangkir kopi untuk menemani pagi.

“V60 satu, Dek!” pesan saya.

“Tak ada, Tulang,” jawab penjaga stand.

Saya sempat terdiam. Bukan karena kecewa, tetapi karena sapaan “Tulang” membuat suasana terasa seperti sedang bertemu keluarga sendiri.

Daripada memperpanjang urusan V60, saya pun mengubah pesanan.

“Kopi tubruklah.”

“Oke, Tulang,” jawabnya.

Nah, aman. Kopi tubruk. Sederhana. Tidak perlu alat macam-macam. Kopi, air panas, lalu serbuk kopi dibiarkan berenang dengan tenang.

Tak lama kemudian, pesanan datang.

Saya seruput.

Lho!

Kok tidak ada serbuk kopinya?  
Saya mulai curiga. Jangan-jangan serbuk kopinya sudah menyeberang ke Pulau Sibandang di sebelah.

“Ini kopi tubruk, Dek?” tanya saya.

“Bukan, Tulang. Ini espresso. Grinder kita tak ada, Tulang.”

Saya pun diam.

Mau bilang apa lagi? Kopinya sudah dibuat, sudah dihidangkan, dan sudah dibayar.

“Okelah kalau begitu. Espresso juga bolehlah.”

Kisah sederhana itu kemudian membawa pada cerita yang lebih besar tentang Kopi Samosir.

Kopi Samosir merupakan salah satu kopi khas dari kawasan Pulau Samosir di Danau Toba. Kopi ini tumbuh di lingkungan tanah vulkanik yang dikenal subur dan memiliki karakter cita rasa tersendiri.

Salah satu varietas Arabika yang dikenal dari kawasan ini adalah Sigarar Utang. Kopi Arabika tersebut berkembang di dataran tinggi sekitar 1.000 hingga 1.500 meter di atas permukaan laut.

Karakter rasa Kopi Samosir antara lain memiliki body kuat, keasaman yang lembut, serta sentuhan cokelat dan rempah. Karakter tersebut menjadi bagian dari kekhasan kopi yang tumbuh di kawasan Samosir.

Kualitasnya pun mendapat perhatian. Kopi Samosir disebut telah memperoleh penilaian excellent dengan skor di atas 85 dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao di Jember.

Yang tidak kalah penting, Kopi Samosir telah memperoleh perlindungan Indikasi Geografis (IG) dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum dan HAM.

Perlindungan IG bukan sekadar urusan sertifikat dan label pada kemasan. Bagi produk pertanian khas daerah, IG menjadi bagian dari upaya menjaga identitas, karakteristik, reputasi, dan mutu produk yang berkaitan dengan wilayah asalnya.

Dengan demikian, nama Samosir pada kemasan kopi bukan sekadar nama daerah. Di baliknya ada tanah, lingkungan, ketinggian, proses budidaya, petani, serta karakter rasa yang harus dipertahankan.

Di sinilah keberadaan Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kopi Samosir menjadi penting.

MPIG berperan dalam menjaga keberlanjutan identitas dan kualitas Kopi Samosir sekaligus mendorong agar produk kopi lokal memiliki nilai tambah dan semakin dikenal lebih luas.

Susunan pengurus inti MPIG Samosir saat ini dipimpin Mangisi Dedy Putrawan Sinaga sebagai Ketua untuk periode 2023–2029, dengan Ambolas Sitanggang sebagai sekretaris.

Kehadiran Kopi Samosir dalam Festival Kopi Tanah Para Raja juga menunjukkan bahwa kopi tidak lagi sekadar minuman untuk mengusir kantuk. Kopi telah menjadi bagian dari ekonomi kreatif, identitas daerah, promosi pariwisata, sekaligus pintu masuk untuk memperkenalkan produk petani kepada konsumen yang lebih luas.

Dan pagi itu, saya mendapatkan pelajaran sederhana.

Saya memang gagal mendapatkan kopi tubruk.

Tetapi saya mendapatkan cerita tentang Kopi Samosir.

Pesanan boleh berubah dari V60 menjadi tubruk, lalu tiba-tiba mendarat di espresso.

Namun, satu hal tidak boleh berubah: kualitas dan identitas Kopi Samosir harus tetap terjaga.

Sebab kalau sudah sampai Tanah Para Raja, rasanya tidak cukup hanya membawa pulang foto.

Bawa pulang juga kopinya.

Satu bungkus untuk keluarga, satu untuk teman, dan satu lagi untuk diri sendiri.

Kalau ditanya kenapa tiga?

Jawab saja, “Bukan banyak, Bah. Itu oleh-oleh yang belum sempat diminum.”

Horas!

Awaluddin 
Tags

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)