
Memasuki Agustus, Indonesia seperti mendadak menjadi negeri paling rajin menghias diri.
Tapsel-Redmol.Id
Bendera Merah Putih muncul di depan rumah. Umbul-umbul bergoyang ditiup angin. Gang dicat. Pagar dibersihkan. Jalan kampung mendadak terlihat lebih cantik. Bahkan rumah yang sebelas bulan seperti tidak pernah kenal sapu, memasuki Agustus tiba-tiba menemukan kembali semangat kebangsaannya.
Begitulah Indonesia.
Kadang nasionalisme memang dimulai dari hal sederhana. Melihat tetangga memasang bendera, kita ikut memasang. Bukan karena hafal Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009. Bukan pula karena setiap malam membaca sejarah perjuangan sambil menyeruput kopi.
Takut saja rumah sendiri kelihatan belum merdeka.
Tetangga pasang satu bendera, kita pasang dua.
Tetangga memasang umbul-umbul, kita tambah lampu.
Tetangga mengecat pagar, kita mulai bertanya, “Cat sekilo berapa, Bang?”
Lama-lama satu kampung berubah menjadi merah putih.
Lucunya, kebiasaan seperti itu sering dianggap sekadar ikut-ikutan. Padahal jangan remehkan ikut-ikutan. Banyak tradisi baik memang bermula dari melihat orang lain, lalu ikut melakukan.
Anak melihat bapaknya memasang bendera. Ia bertanya, “Kenapa harus pasang bendera?”
Nah, pertanyaan kecil itu sebenarnya pintu masuk sejarah.
Dari sana orang tua bisa bercerita tentang 17 Agustus 1945. Tentang Proklamasi. Tentang Soekarno-Hatta. Tentang para pejuang yang mempertaruhkan nyawa agar anak-anak kita hari ini bisa hidup merdeka.
Jadi, Merah Putih bukan sekadar kain yang dinaikkan supaya rumah tidak kalah gagah dari rumah sebelah.
Tetapi, Bang, ada persoalan yang lebih penting.
Jangan sampai benderanya Merah Putih, tetapi kelakuan kita masih suka abu-abu.
Bendera berkibar gagah, tetapi sampah dilempar ke halaman tetangga.
Umbul-umbul menjulang tinggi, tetapi hak orang lain masih dicaplok.
Upacara tujuh belasan berlangsung khidmat, tetapi setelah bubar, antre beli gorengan saja masih saling serobot.
Yang paling lucu, ada yang pidatonya berapi-api tentang nasionalisme, tetapi ketika ada kesempatan mengakali uang negara, tangannya juga ikut berapi-api.
Kalau begitu, yang benar-benar merdeka cuma benderanya.
Padahal nasionalisme bukan sekadar memasang Merah Putih. Nasionalisme juga terlihat dari cara kita memperlakukan sesama.
Jujur ketika bekerja. Tidak korupsi ketika punya jabatan. Tidak menipu ketika punya kesempatan. Tidak merendahkan tetangga. Mau bergotong royong. Menjaga lingkungan. Dan yang paling berat: mau mengakui kesalahan.
Itulah nasionalisme yang tidak membutuhkan pengeras suara.
Maka, Bang, kalau Agustus ini kita memasang bendera karena tetangga sudah memasangnya, tidak perlu malu.
Mulai saja dari ikut-ikutan.
Tetapi setelah tangan selesai memasang Merah Putih, biarkan hati ikut belajar mencintai negeri.
Sebab Indonesia tidak pernah kekurangan bendera.
Yang kadang masih kurang adalah manusia yang mampu membuat kibaran Merah Putih itu benar-benar berarti.
Bendera boleh berkibar di depan rumah.
Tetapi nasionalisme jangan cuma berhenti di tiang.
