
Tapsel-Redmol.Id
Sesekali kita cerita dunia dari daerah sendiri dulu. Tak melulu soal korupsi, festival kopi, atau kebakaran. Kali ini kita mampir ke Garoga, kecamatan Batangtoru, Tapanuli Selatan. Desa ini pernah menjadi korban banjir bandang pada November 2025. Namun kali ini yang membuat warga berkumpul bukan air bah, melainkan persoalan di ruang kelas.
Seorang guru berinisial DS menjadi sorotan setelah disebut menghukum siswa yang tidak mampu menghafal pelajaran dengan cara mencubit. Guru berinisial DS itu disebut memberikan hukuman dengan cara meminta siswa lain mencubit teman mereka yang tidak berhasil menghafal materi pelajaran. Dalam kasus yang mencuat, seorang siswa disebut menerima hingga sekitar 80 cubitan dan meninggalkan bekas merah serta lebam. Disebut pula ada 27 siswa dari 28 murid di kelas V SD Garoga yang mengalami hukuman serupa.
Bayangkan, Bang. Kalau yang diuji hafalan, mestinya yang bekerja keras itu otak. Jangan sampai badan ikut ujian praktik.
Guru tersebut menjelaskan bahwa niatnya adalah mendidik, bukan membully atau menganiaya. Ia kemudian mengakui tindakannya salah dan meminta maaf dalam mediasi bersama para orang tua di Huntara Garoga, Selasa, 11 Agustus 2026.
Di sinilah kita perlu berhenti sebentar. Jangan buru-buru menjadi hakim, tetapi jangan pula buru-buru mencari alasan untuk membenarkan. Guru perlu didengar. Orang tua perlu didengar. Dan yang paling penting, anak-anak harus didengar.
Mendidik memang tidak gampang. Guru menghadapi puluhan anak dengan kemampuan berbeda. Ada yang sekali membaca langsung hafal. Ada yang sudah membaca lima kali masih bertanya, “Bu, tadi yang mana?” Ada pula yang kalau disuruh menghafal, justru hafal melihat jam pulang.
Tetapi kesulitan anak menghafal bukan alasan untuk menjadikan cubitan sebagai metode belajar. Kalau hafalan belum masuk kepala, tambahkan waktu belajar, ubah metode, gunakan permainan, gambar, cerita, atau pendekatan lain. Jangan sampai pelajarannya malah pindah ke badan.
Ada yang berkata, “Dulu guru lebih keras. Dilempar penghapus, dijewer, dipukul penggaris. Toh kami baik-baik saja.”
Mungkin benar, sebagian orang merasa baik-baik saja. Tetapi pengalaman masa lalu tidak otomatis menjadi standar pendidikan hari ini. Dulu jalan kampung mungkin masih berlumpur. Bukan berarti generasi sekarang harus berjalan tanpa alas kaki supaya disebut kuat.
Guru tetap harus dihormati. Namun menghormati guru bukan berarti membenarkan semua tindakan guru. Orang tua juga perlu mendampingi anak belajar di rumah. Tetapi sekolah harus menjadi tempat yang aman bagi anak untuk belajar, bertanya, salah, lalu mencoba lagi.
Garoga sudah pernah menghadapi banjir bandang. Jangan sampai anak-anaknya kini menghadapi “banjir” lain: banjir ketakutan di ruang kelas.
Anak bukan sekadar angka 27 korban. Mereka adalah manusia kecil yang sedang belajar memahami dunia. Luka di tubuh mungkin sembuh. Tetapi pengalaman buruk di sekolah bisa saja tinggal lebih lama dalam ingatan.
Jadi, Bang, kalau suatu hari anak belum hafal pelajaran, jangan bertanya, “Sudah dicubit berapa kali?”
Lebih baik bertanya, “Sudah diajari dengan cara apa?”
Sebab pendidikan bukan membuat anak hafal karena takut. Pendidikan adalah membuat anak paham karena merasa aman.
Kopi boleh pahit. Pelajaran boleh sulit. Tetapi sekolah jangan sampai terasa pahit bagi anak.
