Lima Hari Ditempa di Medan, Pengurus Koperasi Dibekali Manajemen dan Keuangan

Admin RedMOL
0


Poto Istimewa 

Medan – WartaGlobal.Id

Koperasi tidak cukup hanya memiliki anggota, pengurus, dan badan hukum. Di balik keberlangsungan sebuah koperasi terdapat pekerjaan yang jauh lebih mendasar: tata kelola organisasi, manajemen yang profesional, serta pengelolaan keuangan yang tertib dan transparan.

Kesadaran inilah yang menjadi perhatian Konsorsium Caritas melalui kegiatan Pelatihan Manajemen Organisasi, Pembukaan, dan Keuangan Koperasi yang digelar selama lima hari, 7–11 September 2026, di Aula Yayasan Caritas KAM, Jalan Sei Asahan, Kota Medan, Sumatera Utara.

Pelatihan tersebut mempertemukan para pengurus dan pendamping koperasi dari sejumlah wilayah. Peserta berasal dari Koordinator Lapangan Petra, SRI Indonesia, dan Caritas KAM, serta pengurus CU PSPP Kabanjahe, Koperasi Produsen Luat Sipirok Kabupaten Tapanuli Selatan, dan KSU Komanja Kabupaten Mandailing Natal.

Bukan sekadar duduk mendengarkan materi, peserta diarahkan untuk memahami bagaimana koperasi harus dikelola sebagai sebuah organisasi ekonomi yang membutuhkan sistem.

Mulai dari penguatan kelembagaan, manajemen organisasi, proses pembukaan dan pengembangan koperasi, hingga pengelolaan keuangan menjadi bagian dari pembelajaran selama kegiatan berlangsung.

Dari Teori Menuju Praktik

Penanggung jawab kegiatan dari Konsorsium Caritas, Todo A Pasaribu, turut terlibat dalam proses pendampingan selama pelatihan.

Pendekatan pelatihan diarahkan agar pengetahuan yang diperoleh peserta tidak berhenti sebagai teori di ruang kelas. Pengurus diharapkan mampu menerapkannya dalam aktivitas koperasi masing-masing.

Sebab, tantangan koperasi tidak selalu berada pada bagaimana membentuk organisasi, tetapi justru bagaimana mempertahankannya agar tetap sehat, dipercaya anggota, dan mampu berkembang.

Administrasi yang tertib, pembagian tugas yang jelas, pengambilan keputusan yang transparan serta pencatatan keuangan yang benar merupakan fondasi penting dalam membangun kepercayaan anggota.

Respons positif pun datang dari peserta.

Ketua Koperasi Produsen Luat Sipirok, Mansur Batubara, menilai pelatihan tersebut memberikan tambahan wawasan yang relevan bagi pengurus koperasi.

“Kami sangat senang dengan kegiatan ini. Mudah-mudahan ilmu dan pengetahuan yang kami dapatkan bisa diaplikasikan dalam koperasi nantinya,” ujar Mansur.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Konsorsium Caritas yang telah memfasilitasi kegiatan tersebut.

“Saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Konsorsium Caritas yang telah memfasilitasi kegiatan pelatihan ini,” katanya.

Koperasi Kuat Dimulai dari Tata Kelola

Menurut Mansur, pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan menjadi bekal penting bagi pengurus untuk memperbaiki sekaligus mengembangkan tata kelola koperasi.

Koperasi yang sehat, kata dia, tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah anggota atau besarnya aktivitas usaha. Profesionalisme pengurus, keteraturan administrasi, transparansi dan kemampuan mengelola keuangan menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan koperasi.

Di titik inilah pelatihan lima hari tersebut memiliki arti strategis.

Pengurus tidak hanya dituntut mampu menjalankan kegiatan usaha, tetapi juga memahami bahwa setiap keputusan organisasi memiliki konsekuensi terhadap anggota.

Uang koperasi bukan sekadar angka dalam buku kas. Di dalamnya terdapat kepercayaan anggota yang harus dikelola secara bertanggung jawab.

Ilmu Harus Pulang Bersama Peserta

Pelatihan boleh selesai pada 11 September.

Namun pekerjaan sesungguhnya justru dimulai setelah peserta kembali ke daerah masing-masing.

Pengetahuan tentang manajemen organisasi harus terlihat dalam cara pengurus menjalankan rapat dan mengambil keputusan. Pengetahuan tentang administrasi harus tercermin dalam pencatatan dokumen. Sementara pengetahuan keuangan harus terlihat dalam laporan yang tertib, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Karena itu, keberhasilan pelatihan tidak seharusnya diukur dari berapa banyak peserta yang hadir atau berapa sertifikat yang dibagikan.

Ukuran sebenarnya adalah apa yang berubah setelah peserta kembali ke koperasinya.

Apakah administrasi menjadi lebih tertib?

Apakah pengelolaan keuangan semakin transparan?

Apakah pengurus semakin memahami tanggung jawabnya?

Dan yang paling penting, apakah anggota merasakan manfaat dari perbaikan tata kelola tersebut?

Catatan Jurnalis

Lima hari belajar di Medan akan kehilangan makna apabila pengetahuan hanya berhenti di ruang pelatihan.

Koperasi membutuhkan pengurus yang tidak sekadar mampu menjalankan rutinitas, tetapi memahami prinsip profesionalisme, transparansi, akuntabilitas dan pelayanan kepada anggota.

Karena koperasi pada akhirnya bukan hanya tentang modal dan usaha.

Koperasi adalah tentang kepercayaan.

Dan kepercayaan hanya dapat tumbuh apabila organisasi dikelola dengan pengetahuan, sistem, keterbukaan dan tanggung jawab.

Lima hari belajar, jangan lima hari kemudian lupa.

Ilmunya harus ikut pulang bersama peserta—masuk ke koperasi, bekerja dalam sistem, dan akhirnya dirasakan manfaatnya oleh anggota.

WartaGlobal.Id — Koperasi kuat, tata kelola sehat, anggota semakin berdaya.

Tags

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)