Tapanuli Selatan, 12/1/2026, Redmol.id ~ Di kaki Pegunungan Sibualbuali, udara sejuk dan tanah subur menjadi sahabat setia para petani. Di ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut, dua desa di Kecamatan Sipirok—Desa Sialaman dan Desa Kilang Papan—menyimpan sebuah cerita menarik tentang pertanian yang dikelola dengan cara berbeda.
Desa Sialaman berjarak sekitar 4,5 kilometer dari Kantor Bupati Tapanuli Selatan, sementara Desa Kilang Papan hanya sekitar 1,5 kilometer. Tak jauh dari pusat pemerintahan kabupaten ini, berdiri sebuah kebun yang bukan sekadar tempat menanam dan memanen hasil bumi. Warga menyebutnya Kebun Permakultur Sipirok—sebuah kebun yang benar-benar “hidup”.
Berbeda dengan kebun konvensional, kebun ini dirancang dengan prinsip sederhana namun mendasar: bekerja bersama alam, bukan melawannya. Setiap unsur alam dimanfaatkan sebagai bagian dari sistem. Daun gugur dibiarkan menjadi mulsa alami, sisa organik diolah kembali menjadi kompos, dan air hujan ditampung untuk memenuhi kebutuhan kebun. Limbah tidak dianggap masalah, melainkan sumber daya.
“Di sini tidak ada yang benar-benar terbuang. Semua kembali ke tanah dan memberi kehidupan baru,” ujar Irsan Simanjuntak, pemilik sekaligus pengelola Kebun Permakultur Sipirok.
“Kami hanya meniru cara alam bekerja. Kalau alam sehat, tanaman sehat, manusia juga ikut sehat,” tambahnya.
Pendekatan ini sejalan dengan konsep Logical Framework Work (LFW), metode perencanaan dan pengelolaan yang sistematis. Melalui pendekatan tersebut, kebun ini menjadi rujukan pengembangan pertanian terintegrasi di Sipirok—mulai dari pemilihan komoditas unggulan hingga pengelolaan lahan yang efisien dan ramah lingkungan. Prinsip utamanya: satu biaya, multi hasil.
Secara desain, kebun ini menerapkan sistem agroforestri multistrata dengan empat lapisan tajuk. Lapisan paling bawah diisi tanaman penutup tanah seperti umbi-umbian dan hortikultura yang menjaga kelembapan tanah sekaligus memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Di atasnya tumbuh kopi Arabika Sipirok sebagai tulang punggung ekonomi kebun. Lapisan tajuk sedang diisi jeruk keprok khas Sipirok yang terkenal akan aroma segarnya, sementara lapisan tertinggi ditopang pohon manggis dan durian sebagai pelindung alami sekaligus investasi jangka panjang.
Nilai tambah kebun semakin kuat dengan kehadiran vanili bernilai tinggi sebagai tanaman sela, pagar hidup dari kayu manis, serta rumput pakan ternak di sepanjang lahan. Sistem ini terintegrasi dengan ternak ayam dan kambing, menciptakan ekosistem seimbang yang mendukung mikroorganisme tanah, serangga penyerbuk, hingga manusia sebagai pengelola.
Hasilnya bukan sekadar teori. Dalam satu hektare lahan, kebun ini mampu menghasilkan hingga 45 ton hijauan pakan ternak per tahun, cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar 40 ekor kambing. Jika digabungkan dengan produksi kopi Arabika, jeruk keprok, vanili, manggis, kayu manis, ayam, dan kambing, nilai produksi tahunan kebun ini mencapai lebih dari satu miliar rupiah, dengan biaya operasional yang relatif efisien.
Bagi masyarakat sekitar, keberadaan kebun ini membawa dampak nyata. Erwin, warga Desa Kilang Papan, mengaku banyak belajar dari sistem yang diterapkan.
“Dulu kami berpikir kebun harus bersih, daun-daun dibakar. Sekarang kami tahu, justru daun itu yang menyuburkan tanah,” katanya.
“Pendapatan juga jadi lebih beragam, tidak bergantung satu tanaman saja.”
Tak hanya bernilai ekonomi, Kebun Permakultur Sipirok juga berfungsi sebagai kebun model dan ruang belajar terbuka. Petani, masyarakat, hingga mahasiswa dari berbagai daerah kerap datang untuk belajar langsung tentang praktik permakultur—mulai dari pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan, hingga pengelolaan lingkungan.
Saat ini, potensi lahan permakultur yang telah dikelola mencapai sekitar 12 hektare, tersebar di Desa Sialaman dan Desa Kilang Papan. Demplot ini rutin menjadi lokasi praktik kerja lapangan, berbagi pengetahuan, sekaligus sumber inspirasi bagi banyak pihak.
Singkatnya, Kebun Permakultur Sipirok membuktikan bahwa pertanian bisa dirancang secara cerdas: meniru alam, menghasilkan pangan sehat, memperkuat ekonomi lokal, dan menjaga lingkungan. Di tanah Sipirok, masa depan pertanian berkelanjutan bukan sekadar wacana—ia sudah tumbuh, hidup, dan memberi harapan.
(IAB)
