Seni Berburu THR: Dari Tunjangan Hari Raya Menjadi Tolong Hargai Relasi

Admin RedMOL
0


Tapanuli Selatan, 16/3/2026, Redmol.id
Kemarin saya menulis tentang kabar seorang Bupati di Cilacap yang diduga memeras demi THR. Membacanya saja sudah membuat kening berkerut. Hebat juga rupanya kekuatan THR ini. Sebuah tunjangan yang awalnya sederhana, tapi kadang bisa berubah menjadi cerita yang tidak sederhana.

Secara resmi, THR—Tunjangan Hari Raya—adalah pendapatan tambahan yang wajib diberikan perusahaan atau pemberi kerja kepada karyawan menjelang hari raya keagamaan. Di Indonesia, THR paling akrab dengan Idul Fitri. Tujuannya jelas: membantu pekerja merayakan hari raya dengan lebih tenang. Bisa membeli baju baru untuk anak, menambah lauk di meja makan, atau sekadar menambah ongkos pulang kampung.

Namun seperti banyak hal di negeri ini, sesuatu yang awalnya lurus kadang bisa belok ke banyak arah.

Idul Fitri tinggal menghitung hari. Umat Islam sibuk menyiapkan hati agar kembali suci. Masjid makin ramai, doa makin panjang, dan niat untuk saling memaafkan mulai disusun rapi. Tetapi di sudut-sudut lain kehidupan, ada juga yang sedang menyusun daftar target.

Ya, daftar target THR.

Inilah musim berburu amplop.
Kartu ucapan selamat Lebaran mulai berterbangan ke segala penjuru. Dari Kepala Desa, Camat, sampai pimpinan OPD. Telepon berdering, WhatsApp bergetar, pesan masuk tanpa henti. Semua terlihat seperti silaturahmi yang hangat.

Namun kadang di balik ucapan “Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir batin” terselip harapan kecil yang tidak selalu tertulis.

Harapan itu biasanya berbentuk amplop.

Permainan seperti ini ternyata tidak hanya hidup di dunia perusahaan. Dunia pemerintahan juga punya bab tersendiri.
Para pemainnya beragam. 

Ada oknum LSM yang merangkap wartawan. Datang dengan alasan wawancara pulangnya mengharap amplop.

Ada juga gaya lain yang lebih misterius. Kadang datang dari oknum yang membawa aura penegakan hukum. Kalimatnya pendek saja.

“Ini… mau lanjut atau tidak?”

Kalimat sesingkat itu kadang sudah cukup membuat pejabat langsung teringat bahwa Lebaran memang sebentar lagi.

Belum lagi metode klasik yang sudah turun-temurun: tebar proposal kegiatan, kirim kartu ucapan, atau datang bersilaturahmi dengan wajah yang sangat ramah.

Ujung ceritanya sering sama.

Harap THR.

Akibatnya, menjelang akhir Ramadan banyak pejabat mendadak menghilang. Kantor terasa lebih sepi dari biasanya. Telepon dibiarkan berdering tanpa jawaban.

Bukan karena mereka sedang i’tikaf di masjid.

Melainkan sedang menghindari pertemuan yang berpotensi berubah menjadi pembicaraan tentang amplop.

Bahkan setiap nomor telepon baru sering menimbulkan kecurigaan.

“Nomor siapa ini?”

Dalam hati langsung muncul dugaan: jangan-jangan pemburu THR.

Begitulah suasana menjelang Lebaran. Di satu sisi, Ramadan mengajarkan kita menahan lapar, haus, dan emosi. Di sisi lain, ada juga yang sibuk menahan diri agar tidak terlalu sering mengeluarkan amplop.

Padahal sejatinya THR adalah berkah. Ia membuat banyak orang tersenyum. Anak-anak bisa memakai baju baru. Pedagang di pasar ikut ramai. Keluarga bisa berkumpul dengan hati yang lebih ringan.

Tapi kalau semua orang merasa punya hak atas THR, lama-lama yang bekerja bisa bingung juga. Yang menerima gaji siapa, yang menunggu amplop siapa.

Mungkin beginilah warna kehidupan di negeri ini. Bahkan menjelang hari suci pun kreativitas sosial tetap hidup dan berkembang.

Jadi sambil menikmati kopi dan menunggu takbir berkumandang, mari kita ingat satu hal sederhana.

THR memang Tunjangan Hari Raya.

Tapi bagi sebagian orang, kadang artinya berubah sedikit menjadi:
“Tolong Hargai Relasi.”

(IAB)
Tags

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)