Tapanuli Selatan, 16/3/2026, Redmol.id
Sahur di penghujung Ramadan selalu punya suasana yang agak berbeda. Udara masih dingin, mata kadang masih setengah terbuka, dan kopi di meja terasa seperti sahabat paling setia. Di waktu seperti ini, cerita-cerita lama sering terasa lebih hangat.
Sampai kemarin, saya sudah menuliskan 25 kisah nabi. Dimulai dari Nabi Adam AS sampai Baginda Rasulullah Muhammad SAW. Semuanya adalah manusia pilihan yang menjalani tugas besar: menyampaikan petunjuk Allah kepada manusia. Dan seperti manusia pada umumnya, setelah tugas mereka selesai, mereka pun wafat.
Namun ada dua kisah yang selalu membuat orang bertanya-tanya. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Nabi Isa AS belum wafat, melainkan diangkat oleh Allah ke langit. Dan ada satu lagi sosok yang sering muncul dalam berbagai kisah Islam—seorang hamba saleh yang menurut sebagian ulama diyakini masih hidup sampai sekarang.
Namanya: Khidir.
Di antara kisah para nabi, Khidir adalah sosok yang selalu diselimuti misteri. Namanya sering disebut ketika orang berbicara tentang ilmu yang dalam, kesabaran, dan rahasia takdir yang tidak selalu bisa dipahami manusia.
Dalam Al-Qur’an, kisah pertemuan Khidir dengan Nabi Musa diabadikan dalam Surah Al-Kahf ayat 60–82. Ceritanya bermula ketika Musa ingin belajar tentang ilmu yang Allah berikan kepada Khidir—ilmu yang tidak dimiliki oleh kebanyakan manusia.
Perjalanan mereka ternyata tidak seperti belajar di kelas biasa. Tidak ada papan tulis, tidak ada buku catatan. Yang ada justru kejadian-kejadian aneh.
Bayangkan saja. Baru saja menumpang perahu milik orang miskin, Khidir malah melubangi perahu itu. Nabi Musa tentu terkejut. Mungkin dalam hati ia berpikir, “Ini belajar atau bikin masalah?”
Belum selesai kebingungan itu, Khidir melakukan tindakan lain yang lebih sulit dipahami. Musa yang dikenal sebagai nabi yang tegas tentu tidak bisa diam dan beberapa kali bertanya.
Setiap kali Musa bertanya, Khidir hanya mengingatkan satu hal: bahwa Musa mungkin tidak akan sabar melihat apa yang ia lakukan.
Pada akhirnya Khidir menjelaskan rahasianya. Perahu itu dilubangi agar tidak dirampas oleh raja zalim. Anak yang dibunuh ternyata kelak akan menjerumuskan orang tuanya ke dalam kekafiran. Dan dinding rumah yang diperbaiki menyimpan harta milik dua anak yatim yang harus dilindungi sampai mereka dewasa.
Di situlah Musa memahami sesuatu yang besar: tidak semua peristiwa bisa langsung dipahami manusia.
Kadang kita hanya melihat perahu yang berlubang, tetapi tidak melihat bahaya besar yang sedang menunggu di depan.
Karena itulah Khidir sering dipandang sebagai simbol kebijaksanaan dan kedalaman ilmu. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa ia diberi “ilmu dari sisi Allah.”
Menariknya lagi, kisah tentang Khidir juga penuh misteri. Tidak ada keterangan pasti tentang usianya, keluarganya, atau kapan ia wafat. Karena itulah sebagian ulama berpendapat ia masih hidup hingga sekarang, meskipun hal ini tetap menjadi perbedaan pendapat dalam kajian Islam.
Dalam ajaran Islam sendiri jumlah nabi sangat banyak. Dalam sebuah hadis disebutkan jumlahnya sekitar 124.000 nabi. Sementara rasul sekitar 313 orang.
Perbedaannya sederhana: nabi menerima wahyu untuk dirinya dan meneruskan ajaran yang sudah ada, sedangkan rasul menerima wahyu sekaligus perintah untuk menyampaikannya kepada umat sebagai risalah baru.
Karena itu setiap rasul pasti seorang nabi, tetapi tidak semua nabi adalah rasul.
Begitulah kisah Khidir—sosok yang misterius, penuh hikmah, dan selalu membuat orang penasaran.
Apakah ia masih hidup atau tidak, para ulama memang berbeda pendapat. Tetapi mungkin yang lebih penting bukanlah apakah kita pernah bertemu Khidir di jalan, melainkan apakah kita bisa belajar sedikit kesabaran seperti Musa dan sedikit kebijaksanaan seperti Khidir.
Karena dalam hidup ini sering kali kita hanya melihat masalah yang terjadi hari ini, tanpa tahu hikmah besar yang sedang Allah siapkan di belakangnya.
Akhirnya sampai di sini dulu kisah para nabi dalam tulisan Ramadan kali ini. Dari Nabi Adam sampai Rasulullah, semuanya mengingatkan satu hal: bahwa manusia selalu membutuhkan petunjuk.
Sekarang kopi sahur mungkin sudah tinggal setengah gelas. Waktu Subuh juga sebentar lagi datang.
Dan kalau suatu hari nanti ada orang tua yang tiba-tiba memberi nasihat bijak di pinggir jalan… siapa tahu itu Khidir.
Tapi kalau yang datang malah tukang sayur lewat sambil teriak “sayur… sayur…”, ya sudah. Itu tandanya sahur benar-benar sudah selesai.
(IAB)
