Phnom Penh, Kamboja 12/3/2026, Redmond. Id Netti Herawati SE, jurnalis investigasi berhijab dengan 26 tahun pengalaman, nekat terjun ke sarang sindikat scam online di Kamboja. Gelar CME 2023, Pararegal ME, C.MK, dan MBA di tangan, plus rekam jejak sebagai Wakil Ketua III DPP SBNI, mantan Kepala Pengawas Kebijakan Publik Bakornas, serta Ketua SPRI & WHN Bali, tak membuatnya gentar.
Prinsipnya tegas: "Berani karena benar, bukan karena dibayar."Awal 2026, Netti temukan fakta kelam: 5.264 WNI lapor terjebak penipuan daring. Pemerintah Kamboja beri keringanan denda untuk 2.884 overstay, tapi hingga Maret 2026, hanya 1.252 pulang.
Sebanyak 743 dijadwalkan Februari-Maret tertunda verifikasi TPPO. Sisanya? Ribuan disekap, dipukul, tidur di trotoar Phnom Penh—bukan korban sindikat semata, tapi birokrasi Indonesia yang "membiarkan mereka camping gratis".Kedutaan Besar RI (KBRI) Phnom Penh dikecam cuek. Akses media dibatasi, keluarga gelisah, korban kehabisan dana. Netti harus "main petak umpet" dengan pejabat sambil jaga sopan santun.
Lewat surat terbuka ke DPR RI Komisi III (7 Maret 2026), ia tuntut: panggil Menlu dan pimpinan KBRI, percepat verifikasi Polri-Imigrasi, bentuk satgas anti-perekrut ilegal, serta awasi pungli di penjara Kamboja.Investigasinya picu sorotan media nasional.
Sejumlah WNI mulai dipulangkan, usulan satgas anti-perekrut mengemuka. "Jurnalisme bukan press release, tapi suara rakyat," tegas Netti, aktivis perempuan-anak dan pembela Palestina.Di tengah kopi dingin Phnom Penh, Netti bukti: keberanian lahir dari integritas. Birokrasi bangun, atau WNI terus jadi korban?(WartaGlobal/IAB)
