Nabi Zakariya: Seabad Menanti, Doa Itu Akhirnya Dijawab

Admin RedMOL
0


Tapsel, 12/3/2026, Redmol.id
Ramadan sudah hampir di ujung jalan. Tinggal hitungan malam sebelum kita melambaikan tangan sambil berkata, “Terima kasih ya, Ramadan… semoga tahun depan kita ketemu lagi.” Sambil menunggu imsak, silakan seruput kopinya dulu, Bang. Biar mata tetap melek, hati juga ikut hangat.

Nah, di tengah suasana sahur yang agak sendu tapi tetap penuh harapan ini, mari kita ingat kisah seorang lelaki tua yang luar biasa sabarnya: Nabi Zakariya AS.

Bayangkan seorang kakek yang rambutnya sudah putih semua. Jalannya mungkin pelan, lututnya kadang bunyi “krek-krek” kalau berdiri, tapi soal ibadah… wah, semangatnya seperti santri baru pulang dari pesantren Ramadan. Salatnya khusyuk, doanya panjang, dan harapannya kepada Allah tidak pernah pensiun.

Dialah Nabi Zakariya AS.

Menurut berbagai riwayat, usianya sudah sangat lanjut, bahkan disebut-sebut mendekati seratus tahun. Ia hidup sekitar abad pertama sebelum Masehi di wilayah Palestina, di sekitar Baitul Maqdis. Nasabnya juga bukan sembarangan. Ia masih keturunan nabi-nabi besar, seperti Nabi Dawud AS dan Nabi Sulaiman AS.

Pekerjaannya? Bukan sekadar tokoh agama biasa. Nabi Zakariya dikenal sebagai penjaga tempat suci di Baitul Maqdis sekaligus nabi yang terus mengajak Bani Israil kembali menyembah Allah.

Namun di balik kesalehannya, ada satu ujian hidup yang cukup lama menemaninya: ia belum memiliki anak.

Bayangkan saja. Usia sudah hampir seabad, rambut sudah putih semua, tapi kalau ada yang bertanya, “Pak, cucunya sudah berapa?”

Jawabannya mungkin, “Ehm… anak saja belum ada.”
Istrinya juga sudah sangat tua. Secara hitungan manusia, harapan punya anak itu sudah seperti berharap pohon mangga berbuah di dalam lemari. Kedengarannya agak mustahil.

Tapi Nabi Zakariya bukan tipe orang yang gampang menyerah.

Ia tetap berdoa. Tetap berharap. Tidak pernah berkata, “Ah sudahlah, mungkin bukan rezeki.” Justru di usia yang semakin senja, doanya semakin lembut dan penuh kerendahan hati.

Suatu hari, ketika sedang beribadah di mihrab Baitul Maqdis, ia berdoa dengan kalimat yang sederhana:

“Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri, dan Engkaulah sebaik-baik pewaris.”

Doanya tidak panjang. Tidak penuh kata-kata puitis. Tapi datang dari hati yang benar-benar percaya.

Dan seperti yang sering terjadi dalam kisah para nabi, Allah menjawab doa itu dengan cara yang membuat manusia ternganga.

Malaikat Jibril datang membawa kabar: Nabi Zakariya akan dikaruniai seorang anak laki-laki yang kelak diberi nama Yahya, dan anak itu juga akan menjadi nabi.

Coba bayangkan reaksi seorang kakek hampir seratus tahun mendengar kabar seperti itu. Kalau yang memberi kabar tetangga sebelah, mungkin beliau akan berkata, “Sudah-sudah, jangan bercanda.”

Tapi yang menyampaikan berita adalah malaikat.

Sebagai tanda dari Allah, Nabi Zakariya mengalami kejadian yang unik. Selama tiga hari ia tidak bisa berbicara dengan manusia, padahal tubuhnya sehat. Mulutnya seolah “cuti bicara”, tapi hatinya tetap penuh zikir dan pujian kepada Allah.

Nabi Zakariya juga dikenal sebagai pengasuh Maryam, perempuan salehah yang kelak menjadi ibu Nabi Isa AS. Dalam Al-Qur’an diceritakan bahwa setiap kali ia masuk ke mihrab Maryam, ia sering menemukan makanan di sana.

“Maryam, dari mana makanan ini?” tanya Zakariya.

Maryam menjawab dengan tenang, “Ini dari Allah.”

Jawaban sederhana itu seperti pengingat kecil: jika Allah bisa mengirim makanan dari arah yang tak disangka-sangka, tentu memberi anak kepada pasangan tua juga bukan perkara sulit bagi-Nya.

Sepanjang hidupnya, Nabi Zakariya terus berdakwah kepada Bani Israil. Tidak semua orang menyukai seruan kebenaran. Ada yang menentang, ada yang menolak, bahkan ada yang memusuhi. Tapi beliau tetap teguh sampai akhir hayatnya.

Dari kisah Nabi Zakariya kita belajar sesuatu yang sangat sederhana, tapi sering dilupakan manusia: jangan pernah putus asa dari rahmat Allah.

Kadang kita merasa doa kita sudah terlalu lama. Terlalu sulit. Terlalu mustahil.

Padahal bagi Tuhan, tidak ada doa yang terlalu tua untuk dikabulkan.

Dan tidak ada harapan yang terlalu mustahil untuk terjadi.

Jadi sambil menghabiskan kopi sahur ini, kita diingatkan lagi:
Kalau seorang nabi yang hampir seratus tahun saja masih berani berharap… masa kita yang umurnya belum ada setengahnya sudah ingin menyerah?
(IAB)

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)