Nabi Ilyasa’: Penjaga Api Tauhid di Negeri yang Hampir Lupa Tuhan

Admin RedMOL
0


Tapsel, 10/3/2026, Redmol.id
Bayangkan suatu pagi di sebuah negeri tua di kawasan Palestina. Matahari baru naik, orang-orang mulai keluar rumah, ada yang ke ladang, ada yang ke pasar, dan ada juga yang sibuk… menyembah berhala. Ya, begitulah keadaan sebagian masyarakat Bani Israil saat itu. Padahal sebelumnya mereka sudah diingatkan untuk menyembah Allah saja. Tapi manusia memang kadang punya penyakit lama: gampang lupa.

Di tengah suasana seperti itu, muncullah seorang nabi yang namanya tidak terlalu sering dibicarakan, tetapi perannya sangat penting. Dialah Nabi Ilyasa’, seorang nabi yang dikenal sebagai penerus perjuangan gurunya, Nabi Ilyas.

Menurut riwayat para ulama, Nabi Ilyasa’ berasal dari kalangan Bani Israil dan hidup sekitar abad ke-9 sebelum Masehi. Wilayah dakwahnya berada di daerah yang sekarang dikenal sebagai Palestina dan sekitarnya. Sejak muda, Ilyasa’ dikenal sebagai pribadi yang saleh, tenang, dan punya hati yang lembut. Ia banyak belajar dari Nabi Ilyas, menyaksikan langsung bagaimana seorang nabi berdakwah menghadapi masyarakat yang kadang keras kepala seperti tembok tua—susah ditembus.

Dari situlah Ilyasa’ belajar satu hal penting: berdakwah itu bukan sekadar pandai bicara. Yang lebih penting adalah sabar. Karena kadang orang yang dinasihati tidak langsung berubah. Bahkan ada yang baru berubah setelah dinasihati berkali-kali… seperti alarm pagi yang harus berbunyi lima kali dulu baru bangun.

Ketika Nabi Ilyas wafat, tugas dakwah itu tidak berhenti. Tongkat perjuangan diteruskan oleh Nabi Ilyasa’. Ia kembali mengajak masyarakat Bani Israil untuk menyembah Allah semata dan meninggalkan kebiasaan menyembah berhala yang dulu sempat merajalela.

Menjadi penerus nabi tentu bukan pekerjaan ringan. Ibarat melanjutkan pekerjaan besar yang sudah dimulai orang lain, tanggung jawabnya justru terasa lebih berat. Tetapi Nabi Ilyasa’ menjalankannya dengan penuh kesabaran.

Dalam beberapa kisah tafsir dan sejarah, disebutkan bahwa Allah memberikan berbagai karunia kepada Nabi Ilyasa’. Dengan izin Allah, beliau dapat menyembuhkan orang sakit. Bahkan ada riwayat yang menyebutkan bahwa beliau mampu menghidupkan orang yang telah meninggal, tentu semuanya terjadi hanya atas kehendak Allah.

Ada pula kisah bahwa tanah yang tandus bisa kembali subur setelah didoakan oleh Nabi Ilyasa’. Bagi masyarakat saat itu, peristiwa seperti ini tentu membuat mereka terdiam. Sebab tidak mungkin manusia biasa melakukan hal seperti itu tanpa pertolongan Tuhan.

Perlahan-lahan, sebagian masyarakat mulai kembali kepada ajaran tauhid. Mereka meninggalkan berhala dan kembali menyembah Allah. Kehidupan menjadi lebih tenteram. Pertanian berkembang, masyarakat hidup lebih makmur, dan suasana negeri menjadi lebih damai.

Konon Nabi Ilyasa’ hidup cukup lama, diperkirakan sekitar 80 hingga 90 tahun. Sebagian besar hidupnya dihabiskan untuk membimbing masyarakat dan melanjutkan dakwah yang telah dimulai oleh gurunya. Tentang kehidupan keluarganya sendiri, tidak banyak catatan yang pasti dalam sumber-sumber Islam. Yang jelas, beliau dikenal hidup sederhana dan fokus pada tugas kenabiannya.

Kisah Nabi Ilyasa’ memang tidak sepanjang kisah nabi-nabi lain. Tidak ada laut yang terbelah atau kapal raksasa yang menyelamatkan dunia. Namun ada satu pelajaran penting dari hidupnya: menjaga kebaikan yang sudah ada adalah perjuangan yang tidak kalah berat.

Karena dalam kehidupan, kadang yang paling sulit bukan memulai perubahan, tetapi memastikan perubahan itu tetap hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dan Nabi Ilyasa’ telah menunjukkan bagaimana melanjutkan perjuangan dengan sabar, tenang, dan penuh keimanan. Sebuah teladan sederhana, tetapi sangat berharga.
(IAB)

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)