Nabi Ilyas dan Kemarau Panjang yang Menyadarkan Sebuah Negeri

Admin RedMOL
0


Tapsel, 9/3/2026, Redmol.id
Bayangkan suasana sahur yang masih setengah mengantuk. Kopi baru setengah gelas, nasi di dapur belum matang, dan suara sendok jatuh sedikit saja langsung terdengar seperti konser drum mini. Dalam kondisi mata masih 5 watt seperti itu, biasanya obrolan bisa melompat ke mana-mana. Dari harga cabai yang naiknya seperti roket, sampai kisah para nabi yang kadang terasa seperti cerita petualangan yang serius tapi juga penuh pelajaran hidup.

Nah, salah satu kisah yang jarang dibicarakan, tapi sebenarnya sangat menarik, adalah kisah Nabi Ilyas.

Nabi Ilyas adalah salah satu nabi yang diutus untuk mengingatkan manusia agar kembali menyembah Allah. Beliau diyakini masih keturunan Nabi Harun, saudara dari Nabi Musa. Jadi kalau dalam istilah keluarga, Nabi Ilyas ini masih satu “jalur keluarga besar kenabian” yang cukup terkenal pada zamannya.

Beliau hidup di wilayah Syam—kawasan yang sekarang meliputi Suriah dan daerah sekitarnya. Banyak ulama memperkirakan beliau hidup sekitar abad ke-9 sebelum Masehi. Jadi kalau dihitung-hitung, kisah ini terjadi ribuan tahun sebelum kita ribut soal sinyal internet hilang atau kopi sachet naik harga.

Kisah Nabi Ilyas juga disebut dalam Al-Qur’an, tepatnya dalam Surah As-Saffat ayat 123–132. Di sana diceritakan bahwa beliau diutus kepada kaumnya yang memiliki kebiasaan unik—unik tapi bermasalah—yaitu menyembah berhala bernama Ba‘l.

Yang menarik, kaum Nabi Ilyas sebenarnya hidup cukup makmur. Tanah mereka subur, ladang hijau, perdagangan berjalan lancar. Kalau dibayangkan dengan zaman sekarang, mungkin seperti kota yang ekonominya stabil, pasar ramai, warung kopi tidak pernah sepi, dan pedagang selalu sibuk menghitung uang receh.

Masalahnya cuma satu: urusan ibadahnya agak melenceng.

Mereka lebih rajin menyembah Ba‘l daripada menyembah Allah. Jadi secara ekonomi mereka maju, tapi secara spiritual… ya, agak “kehilangan arah kompas”.

Di tengah kondisi seperti itu, Nabi Ilyas berdiri menyampaikan dakwah. Dengan tenang beliau mengingatkan kaumnya. Kira-kira pesannya sederhana saja:

“Kenapa kalian menyembah sesuatu yang tidak bisa memberi manfaat, sementara Allah adalah Tuhan yang menciptakan dan memelihara kalian?”

Logikanya sebenarnya sederhana. Tapi seperti yang sering terjadi dalam sejarah manusia, sesuatu yang sederhana belum tentu mudah diterima.

Sebagian orang mungkin mendengarkan. Tapi banyak juga yang bersikap santai saja. Ada yang meremehkan, ada yang mungkin berpikir dalam hati, “Ah, hidup kita baik-baik saja kok. Ladang panen, pasar ramai, ngapain juga pusing.”

Sampai suatu hari datanglah peringatan.

Dalam beberapa riwayat tafsir diceritakan bahwa negeri mereka mengalami kemarau panjang. Hujan seperti menghilang dari langit. Ladang mulai mengering, tanaman tidak tumbuh, dan para petani mulai gelisah.

Awalnya orang masih santai. Mereka mengira itu hanya musim biasa. Tapi ketika sumur mulai menyusut, tanah retak-retak, dan panen gagal, barulah banyak yang mulai berpikir, “Jangan-jangan ada yang salah.”

Dalam keadaan seperti itulah doa Nabi Ilyas menjadi jalan pertolongan. Ketika sebagian orang mulai menyadari kesalahan mereka dan kembali beriman, hujan pun turun kembali. Bumi yang tadinya kering perlahan hidup lagi, seperti tanaman yang akhirnya disiram setelah lama kehausan.

Tentu saja perjalanan dakwah Nabi Ilyas tidak selalu mulus. Masih banyak dari kaumnya yang tetap keras kepala. Tapi beliau tetap sabar menyampaikan kebenaran.

Dalam tradisi Islam juga diceritakan bahwa Nabi Ilyas memiliki murid dan penerus dakwah, yaitu Nabi Ilyasa, yang melanjutkan perjuangan setelah masa beliau.

Dari kisah Nabi Ilyas kita belajar satu hal yang sederhana tapi sering terlupakan. Manusia bisa sangat pintar mengurus banyak hal—perdagangan, pertanian, bahkan pembangunan kota—tetapi kadang bisa lupa pada hal yang paling penting: mengingat Tuhan.

Kisah ini juga mengingatkan bahwa tugas orang beriman bukan hanya percaya dalam hati, tetapi juga berani mengingatkan ketika arah kehidupan mulai melenceng. Memang tidak selalu mudah. Kadang yang mendengar sedikit, kadang yang mengangguk malah cuma satu dua orang.

Tapi begitulah jalan para nabi. Mereka tetap menyampaikan kebenaran—bahkan ketika audiensnya tidak sebanyak antrean sahur di warung bubur.
(IAB)

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)