Timbangan Kejujuran: Jejak Dakwah Nabi Syu'aib di Tengah Riuh Pasar Madyan

Admin RedMOL
0


Tapsel, 4/3/2026, Redmol.id 
 Sambil nunggu sahur, kopi dulu. Jangan banyak gula. Biar hidup terasa pahit sedikit, supaya ingat kalau sabar dan jujur itu bukan teori, tapi latihan. Mata masih 10 watt, grup WhatsApp keluarga sudah ribut kirim stiker “SAHUUURR!”. Di antara suara sendok beradu dan notifikasi yang tak ada ampun, mari kita simak satu kisah dari serial 25 Rasul Inspiratif edisi Ramadan: tentang Nabi Syu'aib.

Beliau hidup setelah masa Nabi Ibrahim AS dan sebelum Nabi Musa AS. Diutus kepada kaum Madyan, sebuah wilayah dagang yang ramai di jalur kafilah antara Hijaz dan Syam. Pasarnya sibuk, transaksinya cepat, untungnya menggiurkan. Tapi ada satu masalah klasik: timbangan yang “enteng ke atas, berat ke bawah”. Kalau pembeli lengah sedikit, angka bisa menyusut tanpa pamit.

Di tengah riuh pasar itulah Nabi Syu’aib berdiri. Tidak membawa tongkat yang berubah jadi ular, tidak pula membelah laut. Mukjizatnya adalah kata-kata. Fasih, jernih, menohok. Sampai beliau dijuluki Khatibul Anbiya—orator para nabi. Seruannya sederhana tapi berat dijalankan: “Sempurnakanlah takaran dan timbangan. Jangan kurangi hak orang lain.”

Bayangkan dialog imajiner di pasar itu.

“Wahai kaumku, jangan curang dalam timbangan.”

“Ah, cuma kurang sedikit, Nabi. Namanya juga usaha.”

Sedikit. Kata yang sering jadi pembelaan. Sedikit kurang takaran, sedikit mundur dari janji, sedikit telat bayar utang. Lama-lama yang sedikit itu menumpuk jadi bukit.

Kaum Madyan pintar berdagang, tapi lupa bahwa kejujuran adalah fondasi peradaban. Nabi Syu’aib menasihati dengan lembut, lalu tegas. Mengingatkan tentang hari perhitungan. Namun ejekan justru datang. Mereka menantang, meremehkan, bahkan meminta azab sebagai bukti.

Dan ketika peringatan tak lagi digubris, datanglah ketetapan Allah. Gempa dahsyat mengguncang. Teriakan keras membelah pagi. Pasar yang dulu ramai mendadak sunyi. Yang ingkar binasa, sementara Nabi Syu’aib dan para pengikutnya diselamatkan.

Kisah ini bukan sekadar cerita tentang azab. Ini tentang integritas. Tentang berdiri tegak di tengah arus kebiasaan yang salah. Tentang berani jujur saat orang lain menganggap curang itu “wajar”.

Sekarang, kita kembali ke meja sahur. Kopi sudah tinggal setengah. Azan Subuh sebentar lagi berkumandang. Pertanyaannya sederhana: timbangan apa yang sedang kita pegang hari ini? Timbangan di toko, di kantor, di proyek, atau timbangan janji dan amanah?

Jangan kurangi timbangan. Jangan kurangi amanah. Jangan kurangi kebenaran, walau hanya seujung jarum.

Kalau belum bisa jadi orang paling kaya, minimal jangan jadi orang yang mengurangi hak orang lain. Itu sudah lebih dari cukup untuk membuat hidup—dan sahur kita—lebih bermakna.
(IAB)
Tags

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)