Tapsel, 28/2/2026,:Redmol.id ~ Sambil nunggu sahur, seruput dulu kopi pelan-pelan. Biar mata yang masih setengah watt itu naik tegangannya sedikit demi sedikit. Jam segini enaknya memang merenung—perut masih damai, grup WhatsApp belum berisik, dan mie instan belum bikin keputusan sepihak di lambung. Nah, mumpung suasana hening, kita ngobrol santai tentang sosok ayah yang sabarnya bukan cuma tebal, tapi sudah level “anti goyah”: Nabi Ya'qub.
Beliau ini putra dari Nabi Ishaq dan cucu dari Nabi Ibrahim. Silsilahnya mulia, tapi hidupnya? Jangan kira tanpa episode drama. Tinggal di Kan’an lalu berpindah ke Mesir, usia beliau disebut mencapai sekitar 147 tahun. Panjang umur, panjang pula ujiannya. Kalau hidup ini lomba sabar, beliau sudah angkat piala dari babak penyisihan sampai grand final.
Sebagai ayah dari dua belas putra—yang kelak menjadi asal-usul Bani Israil—beliau punya satu anak yang sangat dicintai, yaitu Nabi Yusuf. Nah, di sini mulai alurnya menegang. Saudara-saudara Yusuf dilanda cemburu. Merasa kasih sayang ayah condong sebelah, mereka bikin rencana yang tidak ramah lingkungan keluarga: Yusuf dibuang ke sumur, lalu pulang bawa cerita paket hemat—katanya dimakan serigala.
Coba bayangkan, seorang ayah menerima baju anaknya berlumur darah dengan kabar yang merobek dada. Kalau kita? Chat cuma dibaca tanpa dibalas saja sudah bikin analisis SWOT semalaman. Tapi Nabi Ya’qub? Beliau menahan luka itu dengan sabar yang sunyi. Menangis, iya. Rindu, jelas. Bahkan sampai penglihatannya memutih karena tangis yang panjang. Tapi ada satu yang tak pernah memutih: harapannya kepada Allah.
Beliau tidak pernah berkata, “Ya sudahlah, move on saja.” Tidak pernah memvonis takdir dengan kecewa. Doanya terus mengalir, prasangkanya tetap baik. Ini sabar aktif, bukan sabar sambil manyun. Sabar yang tetap yakin bahwa Allah tidak pernah salah menulis skenario.
Dan benar saja, Allah kasih plot twist yang tak terduga. Yusuf yang dibuang ke sumur justru tumbuh jadi sosok mulia, bahkan menjadi pembesar di Mesir. Dari sumur ke istana—itu bukan lompatan biasa, itu lompatan takdir. Sampai akhirnya, pada waktu yang Allah tentukan, keluarga itu dipertemukan kembali. Bahkan dikisahkan penglihatan Nabi Ya’qub pulih ketika wajahnya diusap dengan baju Yusuf. Rindu yang bertahun-tahun seperti diangsur lunas dalam sekali peluk.
Sahabat sahur, kisah ini bukan cuma tentang ayah dan anak. Ini tentang harapan yang tidak tumbang meski badai datang berkali-kali. Kita kadang memang lucu. Doa baru parkir seminggu, sudah gelisah kayak nunggu paket belum update resi. Harapan belum terwujud sebulan, langsung curiga sama langit. Padahal ada yang menunggu bertahun-tahun, dengan air mata dan keyakinan yang tetap utuh.
Ramadan mengajarkan kita menahan lapar dan haus. Dari Nabi Ya’qub, kita belajar menahan putus asa. Menahan prasangka buruk. Menahan hati agar tetap percaya. Kalau beliau bisa sabar puluhan tahun menanti kabar anaknya, masa kita tumbang cuma gara-gara antrean takjil atau sinyal hilang lima menit?
Jadi, selagi kopi masih hangat dan azan Subuh belum berkumandang, mari rapikan hati. Kalau ada doa yang terasa lama dijawab, jangan buru-buru menyimpulkan. Bisa jadi Allah sedang menulis pertemuan yang lebih indah dari yang kita bayangkan. Karena seperti kisah Nabi Ya’qub, rindu boleh panjang, tapi harapan jangan pernah tumbang.
(IAB)
