Tapsel, 27/2/2026, Redmol.id ~ Sambil nunggu sahur, kopi dulu diseruput pelan-pelan. Biar mata melek, hati juga ikut hangat. Malam ini kita lanjut serial 25 Rasul Inspiratif edisi Ramadan, dan giliran kita ngobrol santai tentang Nabi Ishaq AS. Ceritanya tenang, tapi maknanya dalam—cocok dibaca sambil nahan ngantuk dan nahan lapar.
Kadang kita ini memang lucu. Doa baru parkir seminggu, hati sudah gelisah kayak nunggu paket belum sampai. Langit belum juga kasih jawaban, langsung overthinking, “Didengar nggak, ya?” Padahal kalau soal sabar, keluarganya Nabi Ibrahim itu levelnya bukan marathon lagi—sudah ultra-marathon lintas generasi.
Nabi Ishaq adalah buah dari doa panjang Nabi Ibrahim dan Siti Sarah. Usia sudah senja, logika sudah angkat tangan, harapan secara manusia tinggal sisa-sisa optimisme. Secara hitung-hitungan dunia, rasanya mustahil. Tapi justru di titik itulah Allah menunjukkan kuasa-Nya.
Bayangkan suasananya di tanah Kan‘an—wilayah yang kini dikenal sebagai Palestina dan sekitarnya. Rumah sederhana, usia tak lagi muda. Lalu datang kabar dari para malaikat: akan lahir seorang anak. Sarah sampai terkejut. Secara manusiawi, itu seperti dengar pengumuman “flash sale terakhir” padahal toko sudah lama tutup. Mustahil! Tapi bagi Allah, tak ada yang mustahil. Dari rahim yang renta, lahirlah Ishaq—sebuah mukjizat hidup yang bukan hanya membahagiakan keluarga, tapi juga mengukir sejarah panjang kenabian.
Ishaq bukan sekadar anak. Ia adalah jawaban langit atas doa yang tak pernah berhenti dipanjatkan. Sebagian anak lahir dari rencana manusia. Ishaq lahir dari rencana Allah yang presisi, matang, dan penuh hikmah.
Diperkirakan hidup sekitar abad ke-19 hingga ke-18 sebelum Masehi, beliau mencapai usia sekitar 180 tahun. Umur panjang, penuh keberkahan. Tapi menariknya, kisah Ishaq tidak dipenuhi drama spektakuler atau ujian yang mengguncang bumi. Hidupnya tenang. Lembut. Konsisten.
Sebagai nabi, ia melanjutkan dakwah ayahnya di tanah Kan‘an. Menyeru kaumnya untuk tetap menyembah Allah semata. Tidak banyak adegan heroik yang meledak-ledak. Tidak ada kisah dramatis bak film laga. Tapi jangan salah—tidak semua pahlawan bekerja dengan suara gemuruh. Ada yang tugasnya menjaga cahaya tetap menyala saat tak banyak mata melihat.
Kalau sejarah kenabian itu seperti estafet obor, Ibrahim membuka lintasan, dan Ishaq memastikan api tauhid tidak padam di tengah jalan. Stabil. Setia. Tenang.
Bersama istrinya, Rifqah (Rebekah), ia dikaruniai dua putra kembar: Ya‘qub dan ‘Ish (Esau). Dari Ya‘qub kelak lahir banyak nabi dari kalangan Bani Israil. Artinya, Ishaq adalah simpul penting dalam peta besar sejarah. Namanya mungkin tidak selalu paling depan disebut, tapi tanpanya, rantai itu tak akan tersambung.
Dari kisah Nabi Ishaq, kita belajar satu hal yang sering kita lupa: Allah tidak pernah tergesa-gesa. Dia tidak terikat kalender manusia. Kalau doa terasa lama, mungkin Allah sedang menyiapkan jawaban yang bukan hanya membahagiakan satu orang, tapi menerangi generasi.
Jadi kalau sahur ini kamu masih menunggu sesuatu—jawaban, harapan, atau kepastian—ingat kisah Ishaq. Bisa jadi doamu bukan ditolak. Hanya sedang diproses di langit, dengan skenario yang lebih indah dari yang sanggup kita bayangkan.
Sekarang kopinya sudah hampir habis. Waktu sahur juga tinggal sedikit. Semoga bukan cuma perut yang terisi, tapi hati juga ikut dikuatkan.
(IAB)
