Pahit yang Dirindukan: Pakkat Jadi Ikon Kuliner Ramadan Sumatera Utara

Admin RedMOL
0


Tapsel, 25/2/2026, Redmol.id  Memasuki bulan suci Ramadan, aroma asap kayu bakar kembali menguar di pasar-pasar tradisional Padangsidimpuan, Mandailing Natal, Tapanuli Selatan, hingga Padang Lawas, dan Padang Lawas Utara, bahkan beberapa daerah di wilayah provinsi Sumatera Utara. Asap tipis yang membubung setiap sore menjadi penanda hadirnya pakkat, kuliner khas rotan muda yang selalu diburu warga untuk menu berbuka puasa.

Pakkat merupakan pucuk rotan muda yang dibakar hingga kulit luarnya hangus. Setelah dibakar selama dua hingga empat jam, kulitnya dikupas untuk mengambil bagian dalam atau umbut yang berwarna putih kekuningan. Teksturnya renyah dan lembut, dengan cita rasa pahit segar yang justru menjadi daya tarik utama. Banyak warga meyakini pakkat dapat membangkitkan selera makan dan menyegarkan tubuh setelah seharian berpuasa.

Di Sumatera Utara, pakkat dikenal sebagai identitas kuliner masyarakat Mandailing dan Angkola. Di wilayah Tapanuli Bagian Selatan, makanan ini seolah menjadi sajian wajib Ramadan. Biasanya pakkat disantap bersama sambal tuk-tuk, ikan sale, atau nasi panas. Kombinasi sederhana itu menghadirkan rasa khas yang membangkitkan nostalgia.

Namun, di balik penyajiannya yang sederhana, terdapat proses panjang yang tidak mudah. Rotan muda tumbuh liar di pedalaman hutan dan bantaran sungai, dengan batang berduri tajam. Para pencari harus menyusuri hutan, menghadapi cuaca yang tak menentu demi mendapatkan rotan berkualitas.

Masyarakat mengenal dua jenis pakkat, yakni pakkat raja dan pakkat lolap. Pakkat raja berukuran lebih besar dan cenderung tidak pahit. Jenis ini banyak ditemukan di sepanjang aliran Sungai Batang Gadis, Aliran Sungai Batang Toru hingga kawasan Pantai Barat. Sementara pakkat lolap berukuran lebih kecil dengan rasa pahit yang lebih kuat, umumnya tumbuh di hutan-hutan Padang Lawas dan Padang Lawas Utara, tepatnya di Kawasan Aliran Sungai Barumun dan sekitarnya.

Meningkatnya permintaan selama Ramadan turut memengaruhi harga jual pakkat di pasaran. Meski demikian, antusiasme masyarakat tidak surut. Bagi banyak warga, pakkat bukan sekadar makanan musiman, melainkan simbol tradisi dan warisan budaya yang terus bertahan di tengah arus modernisasi.

Di setiap kepulan asap senja Ramadan, tersimpan cerita tentang kerja keras para pencari rotan, riuhnya pasar tradisional, serta kenangan masa kecil yang kembali hidup. Pakkat bukan hanya pelengkap berbuka, tetapi juga pengikat rasa dan identitas masyarakat Tapanuli Selatan yang tetap lestari dari generasi ke generasi.
(IAB)

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)