Kisah Nabi Luth di Negeri Sodom

Admin RedMOL
0

Tapsel, 25/2/2026, Redmil.id 

 Sambil nunggu sahur, seruput kopi biar mata dan hati sama-sama melek. Ini tulisan ketujuh serial Ramadan: kisah Nabi Luth AS. Bukan sekadar cerita lama, tapi tentang keberanian berdiri tegak di tengah kaumnya yang santai kelewat batas. Sebelum Subuh tiba, yuk isi hati dulu!

Kalau kita membuka lembar sejarah para nabi, nama Luth selalu hadir dengan kisah yang tegas dan penuh pelajaran. Beliau adalah keponakan dari Ibrahim. Jadi kalau Ibrahim itu bisa dibilang “Bapak Para Nabi”, maka Luth ini seperti keponakan yang mewarisi semangat pamannya—terutama dalam urusan tauhid dan keberanian melawan arus.

Nabi Luth hidup sezaman dengan pamannya. Beliau ikut hijrah dari wilayah Babilonia menuju Syam, lalu diutus ke sebuah kaum yang tinggal di sekitar Laut Mati, wilayah yang dikenal sebagai Sodom dan Gomorah. Kira-kira 3.800 sampai 4.000 tahun lalu. Jadi ini bukan kisah kemarin sore. Ini kisah lama yang pelajarannya masih terasa sampai sekarang.

Tidak ada keterangan pasti tentang usia Nabi Luth ketika wafat. Namun dalam banyak riwayat, usia para nabi pada masa itu umumnya panjang—bisa mencapai lebih dari 70 atau 80 tahun, bahkan ada yang jauh lebih lama. Informasi detail tentang usia beliau tidak disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an maupun hadis shahih.

Nabi Luth diutus kepada kaumnya yang terkenal melakukan penyimpangan moral berat—yakni perilaku homoseksual yang dilakukan secara terang-terangan dan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) dianggap biasa oleh mereka. Bukan cuma itu, mereka juga dikenal gemar merampok dan berbuat zalim kepada pendatang.

Bayangkan jadi Nabi Luth. Setiap hari mengingatkan, setiap hari pula ditertawakan. Kalau zaman sekarang mungkin beliau sudah dibilang, “Ah, terlalu kaku… jangan baperan.” Padahal yang beliau lakukan cuma satu: menyampaikan kebenaran.

Puncak ujian itu terjadi ketika tamu malaikat datang dalam wujud manusia. Kaumnya malah berbondong-bondong ingin berbuat keji. Di situ kita bisa membayangkan betapa rusaknya moral saat itu. Nabi Luth berdiri sendirian, menjaga tamu, menjaga kehormatan, sambil menghadapi tekanan dari satu kota penuh orang keras kepala. Kalau ini film, mungkin kita sudah deg-degan sambil pegang gelas kopi.

Akhirnya, setelah dakwah panjang dan penuh penolakan, Allah memerintahkan Nabi Luth keluar di malam hari bersama pengikutnya. Jangan menoleh. Jangan ragu. Lalu datanglah azab: negeri itu dibalikkan dan dihujani batu dari langit. Sebuah peristiwa yang menjadi tanda tegas bahwa kebenaran tidak selamanya dibiarkan diinjak-injak.

Mukjizat Nabi Luth bukan tongkat yang berubah jadi ular atau laut yang terbelah. Mukjizatnya adalah perlindungan Allah atas dirinya dan tamu-tamunya, serta keselamatan dirinya dan orang-orang beriman saat azab turun. Kadang mukjizat itu bukan pertunjukan, tapi penjagaan.

Yang lebih menyentuh, istrinya sendiri tidak beriman dan termasuk yang terkena azab. Dari sini kita belajar bahwa hidayah itu personal. Bahkan dalam satu rumah pun, arah hati bisa berbeda. Tentang anak, Al-Qur’an mengisyaratkan beliau memiliki beberapa putri, namun jumlah pastinya tidak disebutkan secara tegas.

Kisah Nabi Luth mengajarkan satu hal penting: kebenaran tidak diukur dari jumlah pengikut. Kadang yang benar itu sepi. Kadang yang lurus itu sendirian. Tapi sendirian di jalan yang benar lebih mulia daripada ramai-ramai menuju kebinasaan.

Oh ya, sebagai pengingat, istilah “sodomi” sendiri berasal dari nama kaum Sodom—merujuk pada perilaku menyimpang yang mereka lakukan secara terang-terangan.

Jadi sambil menunggu azan Subuh, mari isi ulang keberanian. Kalau suatu saat harus berbeda demi prinsip, ingat Nabi Luth. Karena iman bukan soal ikut mayoritas, tapi soal tetap teguh meski tak banyak yang bertepuk tangan.
(IAB)
Tags

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)