Dari Api ke Kurban: Kisah Tauhid Ibrahim yang Menggetarkan

Admin RedMOL
0


Tapsel, 24/2/2026, Redmol.id  
Sambil nunggu sahur, minum dulu kopinya. Biar yang melek bukan cuma mata, tapi juga hati. Daripada scroll notifikasi yang isinya “promo terakhir!”, mending kita buka kisah lelaki yang dari muda sudah hobi beda arus: Kisah Ibrahim. Ini tulisan keenam dari serial 25 Rasul pilihan edisi Ramadan kita.

Kalau ngobrolin Ibrahim AS, itu rasanya seperti buka buku sejarah tebal… tapi isinya bukan teori, melainkan aksi nyata. Beliau ini dijuluki “Bapak para Nabi”. Jadi kalau para nabi bikin grup WhatsApp keluarga, beliau adminnya.

Diperkirakan hidup sekitar 2000 SM, lahir di sekitar Ur of the Chaldeans (sekarang wilayah Irak). Ayahnya, Azar, profesinya pembuat patung berhala. Ironisnya, anaknya justru jadi pengkritik paling vokal industri tersebut. Dari muda Ibrahim sudah banyak mikir. Lihat bintang, “Oh ini Tuhan?” Eh, tenggelam. Lihat bulan, “Ini mungkin?” Eh, hilang juga. Matahari? Sama saja. Kesimpulannya simpel: yang tenggelam-tenggelam gini jangan dijadiin Tuhan.

Puncaknya? Berhala-berhala dihancurkan, tinggal satu yang paling besar. Kaumnya panik. Raja Namrud murka. Ibrahim dihukum bakar hidup-hidup. Tapi di sinilah plot twist langit bekerja: api yang harusnya panas berubah adem. Seolah-olah lagi duduk dekat AC, bukan di tengah kobaran.

Hidupnya penuh ujian. Hijrah ke Syam, ke Mesir, pindah-pindah demi iman. Usianya sampai sekitar 175 tahun—kalau ada lomba “strong sampai akhir”, beliau juaranya.

Soal keluarga, ada Sarah dan Hajar. Dari Sarah lahir Nabi Ishaq, dari Hajar lahir Nabi Ismail. Dari garis Ishaq lahir Nabi Yaqub dan Bani Israil. Dari garis Ismail lahir Nabi Muhammad SAW. Jadi silsilahnya bukan kaleng-kaleng.

Ujian paling bikin hati bergetar? Perintah menyembelih Ismail. Tapi karena taat total, Allah menggantinya dengan sembelihan besar. Itulah asal mula kurban tiap Idul Adha. Bonusnya lagi, beliau bersama Ismail membangun Ka’bah di Makkah. Sampai sekarang jadi kiblat miliaran manusia.

Intinya, Ibrahim itu bukan cuma tokoh sejarah. Beliau bukti bahwa iman itu bukan ikut-ikutan. Kadang harus berani beda, berani sendirian, dan tetap santai meski dunia lagi panas-panasnya.
(IAB)

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)