Nabi Shaleh dan Mukjizat Unta: Ketika Kesombongan Kaum Tsamud Mengajarkan Hikmah Abadi

Admin RedMOL
0


Tapsel, 23/2/2026, Redmol.id 
Sambil nunggu sahur, minum dulu kopinya. Biar yang bangun bukan cuma mata, tapi juga hati. Ini tulisan kelima edisi Ramadhan. Tenang, kita tidak sedang menunggu unta keluar dari dapur. Kita sedang membuka kisah lama—tentang Nabi Shaleh AS dan kaum Tsamud yang merasa dunia ini milik mereka sendiri.

Jam sudah lewat dini hari. Alarm bunyi berkali-kali, tapi iman masih tarik ulur sama selimut. Di luar, angin dini hari berembus pelan. Damai. Tidak ada suara menggelegar. Tidak ada gempa. Masih aman untuk menyeruput kopi sambil menyimak cerita dari masa ribuan tahun lalu.

Berbicara tentang Nabi Shaleh AS berarti membuka kisah sebuah peradaban hebat. Kaum Tsamud hidup setelah kehancuran kaum ‘Ad. Mereka tinggal di wilayah Al-Hijr, yang kini diyakini berada di sekitar Madain Shalih. terletak di barat laut Arab Saudi dekat Al-Ula. Dahulu kota kaum Nabathah, terkenal dengan makam-makam batu pasir dan arsitektur megah. Kini jadi situs UNESCO, menyimpan jejak sejarah dan budaya kuno yang menakjubkan di gurun luas. 

Kalau hari ini kita kagum pada gedung pencakar langit, kaum Tsamud sudah lebih dulu memahat gunung jadi rumah. Bukan rumah kontrakan. Rumah permanen, langsung dari batu. Anti rayap, anti bocor, mungkin mereka pikir juga anti kiamat.

Nabi Shaleh dikenal jujur, bijaksana, dan dihormati sebelum diangkat menjadi nabi. Secara perkiraan sejarah, beliau hidup sekitar 2000–1500 SM. Usianya tidak disebutkan pasti dalam Al-Qur’an. Istri dan jumlah anaknya pun tidak ada riwayat sahih yang menjelaskan secara rinci. Yang jelas, beliau berdakwah cukup lama. Sabar. Tidak meledak-ledak. Tidak viral. Tapi konsisten.

Masalahnya satu: kaumnya merasa sudah terlalu hebat untuk diingatkan. Arsitektur mereka maju. Fisik mereka kuat. Teknologi batu mereka mungkin kelas “premium edition”. Tapi hati? Mulai membatu juga.

Nabi Shaleh menyeru mereka untuk menyembah Allah semata. Tinggalkan berhala. Hidup jangan cuma bangga sama pahatan gunung. Awalnya ada yang ikut. Tapi mayoritas menolak. Bahkan menantang: “Kalau memang benar, datangkan mukjizat!”

Atas izin Allah, keluarlah seekor unta betina dari batu besar. Bukan sulap. Bukan trik kamera. Itu tanda yang nyata. Unta itu punya aturan: tidak boleh diganggu, ada giliran minum air. Ujiannya sederhana. Tidak ribet. Tidak butuh proposal.

Kadang memang begitu. Ujian terbesar bukan soal sulitnya perintah, tapi soal mau taat atau tetap keras kepala.

Namun kesombongan lebih cepat bicara. Beberapa dari mereka membunuh unta itu. Di situ titik baliknya. Nabi Shaleh memberi peringatan: tiga hari sebelum azab datang. Tiga hari. Waktu yang cukup untuk berpikir. Cukup untuk menyesal. Tapi tidak cukup bagi hati yang sudah merasa paling benar.

Lalu datanglah ash-shaihah—suara keras menggelegar—disertai gempa yang menghancurkan mereka. Gunung yang mereka pahat tak mampu menahan perintah dari langit. Negeri megah itu mendadak sunyi. Batu-batu tetap berdiri, tapi manusianya tiada.

Ramadhan mengajarkan hal yang sama, meski dalam skala kecil. Kita diuji bukan dengan unta keluar dari batu, tapi dengan hal sederhana: bangun sahur atau lanjut tidur, menahan lisan atau ikut emosi, rendah hati atau merasa paling suci. Kaum Tsamud runtuh bukan karena kurang canggih, tapi karena merasa tak butuh Tuhan.

Gunung boleh dipahat jadi istana. Tapi kalau kesombongan yang jadi fondasi, cukup satu perintah dari langit—semuanya tinggal cerita.

Sahur ini mungkin sederhana. Hanya nasi hangat dan kopi yang mulai dingin. Tapi ketaatan kecil yang konsisten jauh lebih kuat daripada istana batu yang menjulang.

Jadi sebelum azan Subuh berkumandang, mari rapikan hati. Jangan sampai kita sibuk memperindah “gunung” kehidupan, tapi lupa melembutkan hati yang mulai membatu.
(IAB)

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)