Kisah Nabi Hud: Saat Angin Langit Meruntuhkan Menara Kesombongan Kaum ‘Ad

Admin RedMOL
0



Tapsel 22/2/2026, RedMol. Id
Sambil nunggu sahur, minum dulu kopinya. Biar yang melek bukan cuma mata, tapi juga hati. Jam sudah lewat tiga. Alarm bunyi lima kali, yang bangun baru separuh niat—separuhnya lagi masih negosiasi sama bantal. Di luar angin dini hari berembus pelan. Tenang, ini bukan angin tujuh malam delapan hari. Ini cuma angin pembuka kisah tentang Hud, tulisan keempat edisi Ramadan.

Ngomongin Nabi Hud AS itu seperti buka album lama yang kertasnya sudah menguning. Beliau diutus kepada kaum ‘Ad, peradaban kuat yang tinggal di Al-Ahqaf—wilayah antara Yaman dan Oman sekarang. Badan mereka tinggi-tinggi, fisik tangguh, dan jago bikin bangunan megah. Kalau hidup di zaman sekarang, mungkin sudah punya perusahaan konstruksi dengan slogan, “Kalau bisa bikin tinggi, kenapa bikin biasa?”

Sayangnya, di balik otot kawat tulang besi dan arsitektur spektakuler, ada yang keropos: hati. Mereka merasa paling kuat, paling hebat, paling tak terkalahkan. Kalau ada lomba percaya diri, juara umum, plus piala bergilir. Ketika Hud AS datang mengajak menyembah Allah dan meninggalkan berhala, responsnya bukan, “Baik, kami kaji dulu.” Tapi, “Ah, kau ini cuma manusia biasa. Jangan sotoy!”

Padahal Hud AS masih tersambung nasabnya ke Nuh. Beliau berdakwah sabar, lembut, tapi tegas. Coba bayangkan berdiri di tengah kaum yang merasa superior, lalu bilang, “Jangan sombong.” Itu butuh mental baja. Kaum ‘Ad malah mengejek, menuduhnya gila, pembawa sial. Kalau ada media sosial waktu itu, mungkin kolom komentarnya sudah penuh: “Hud terlalu halu.”

Tapi dakwah bukan soal trending atau tidak. Hud AS terus mengingatkan: kekuatan tanpa iman itu seperti gedung pencakar langit tanpa fondasi—kelihatan gagah, sekali digoyang langsung “byar.”

Dan benar saja, ketika mereka tetap membangkang, datanglah azab berupa angin sangat kencang dan dingin selama tujuh malam delapan hari. Bukan angin yang cuma bikin rambut berantakan, tapi yang merobohkan kebanggaan. Bangunan megah ambruk. Tubuh tinggi yang dulu dibanggakan terhempas tak berdaya. Yang disangka permanen, ternyata rapuh di hadapan kuasa Allah. Hud AS dan para pengikutnya yang beriman diselamatkan.

Al-Qur’an tak merinci soal istri dan anak-anak beliau—karena ini bukan acara gosip kerajaan. Fokusnya iman. Bahwa sejarah berulang bukan pada bentuk bangunan, tapi pada sifat manusia.

Ramadan datang bukan cuma buat nahan lapar dan haus. Ia melatih kita supaya tak jadi “kaum ‘Ad versi mini.” Kadang merasa paling benar, paling pintar, paling saleh. Padahal baru diuji sedikit—telat buka, kuota habis, atau komentar pedas di grup—emosi sudah seperti angin topan.

Jadi, sambil seruput kopi sahur dan menunggu azan Subuh, yuk cek bangunan dalam diri. Fondasinya sudah iman atau baru cat luar yang kinclong? Jangan sampai sibuk meninggikan menara ego, tapi lupa memperkuat pondasi takwa.

Kalau kaum ‘Ad tumbang karena angin, jangan sampai kita tumbang cuma karena pujian.

Tulisan tentang Hud ini terasa ringan tapi menohok. Kisah kaum ‘Ad yang perkasa namun tumbang oleh angin mengingatkan bahwa kesombongan selalu punya ujung. Gaya santainya bikin refleksi terasa dekat: jangan sampai kita sibuk membangun citra, tapi lupa memperkuat iman. Ramadan jadi momen tepat untuk merapikan fondasi hati, sebelum “angin kecil” saja sudah merobohkan kita.
(IAB)

#Irwan Alimuddin Batubara 
#kopisipirok
@sorotan @semua orang

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)