Nabi Nuh & Bahtera Penyelamat: Kisah Iman yang Tak Tenggelam oleh Ejekan

Admin RedMOL
0


Tapsel 21/2/2026, RedMol. Id
Sambil nunggu sahur, seruput dulu kopinya. Biar melek, bukan cuma matanya, tapi juga hatinya. Malam masih setengah mengantuk, grup WA keluarga sudah ribut kirim stiker “SAHUUURR!”, dan kita masih debat dalam hati: lanjut rebahan atau bangun sekarang? Nah, sebelum azan Subuh menyapa, yuk simak cerita tentang satu sosok yang sabarnya bukan kaleng-kaleng: Nabi Nuh AS.

Beliau hidup di generasi awal setelah masa Nabi Adam. Saat itu manusia mulai meninggalkan tauhid dan sibuk menyembah berhala. Di tengah kondisi itu, Nabi Nuh datang membawa pesan sederhana tapi berat diterima: sembahlah Allah saja. Sederhana? Iya. Mudah? Tidak juga.

Yang bikin kita geleng-geleng kepala adalah durasi dakwahnya. Al-Qur’an menyebut beliau berdakwah selama 950 tahun. Itu bukan 9 hari. Bukan 9 bulan. Sembilan ratus lima puluh tahun. Kalau kita dinasihati lima menit saja sudah bilang, “Iya, nanti ya.” Nabi Nuh berdakwah hampir satu milenium. Siang, malam. Terang-terangan, sembunyi-sembunyi. Konsisten. Istiqamah. Tapi pengikutnya? Sedikit.

Kaumnya malah mengejek. Apalagi ketika beliau mulai membangun kapal besar di tengah daratan. Coba bayangkan: belum ada laut di depan mata, tapi sudah bikin bahtera raksasa. Orang-orang mungkin lewat sambil senyum sinis, “Pak Nuh, mau mancing awan?” Namun beliau tetap bekerja. Karena yang ia pegang bukan opini manusia, tapi perintah Allah.

Tentang keluarganya, ujian Nabi Nuh juga tidak ringan. Istrinya termasuk yang tidak beriman, sebagaimana disebut dalam QS. At-Tahrim: 10. Namanya tidak disebutkan secara pasti dalam Al-Qur’an. Dari anak-anaknya, ada empat yang dikenal: Sam, Ham, Yafits, dan Kan’an. Tiga beriman dan ikut naik kapal. Satu, Kan’an, menolak.

Bagian ini mungkin yang paling menggetarkan. Saat banjir besar datang, air turun dari langit, memancar dari bumi, ombak meninggi. Nabi Nuh memanggil anaknya agar ikut naik. Tapi Kan’an memilih berlindung di tempat tinggi. Ia merasa cukup aman. Namun air tetap mengejarnya. Tenggelam. Di situ kita belajar: hidayah bukan soal hubungan darah. Bukan soal siapa ayahnya. Tapi soal pilihan iman.

Ketika azab benar-benar datang, kapal itu mengapung membawa orang-orang beriman dan hewan-hewan berpasangan. Dunia lama tenggelam, lembaran baru dimulai. Yang dulu diejek, justru selamat. Yang dulu merasa paling aman, justru karam.

Cerita Nabi Nuh bukan sekadar kisah banjir besar. Ini kisah tentang sabar yang panjangnya tak terukur. Tentang keyakinan yang tak goyah meski ditertawakan. Tentang tetap taat walau hasil belum terlihat.

Sambil kita menunggu azan Subuh, mungkin pertanyaannya sederhana: kalau sabar Nabi Nuh 950 tahun, masa kita menyerah hanya karena 9 kali gagal? Kalau beliau tetap berdakwah meski diejek, masa kita berhenti hanya karena satu komentar pedas?

Kadang yang terlihat mustahil di mata manusia, justru itulah jalan keselamatan di sisi Allah. Jadi, sebelum kopi sahur ini habis, mari periksa hati: kita mau jadi yang naik kapal, atau yang merasa aman di “bukit” kesombongan?

Sahur sebentar lagi. Semoga iman kita tidak ikut tenggelam.
Tags

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)