Jejak Nabi Idris, Manusia Pertama yang Menulis dengan Pena

Admin RedMOL
0


Tapsel 20/2/2026, Redmol. Id
Sambil nunggu sahur, seruput dulu kopinya. Hangatnya pelan-pelan turun ke dada. Malam masih sunyi, tapi kita mau ngobrol tentang satu sosok yang rajinnya bukan main. Bukan rajin update status. Bukan rajin rebahan sambil bilang “nanti tobat.” Ini rajin level manusia generasi awal bumi: Nabi Idris.

Beliau hidup setelah masa Nabi Adam. Bahkan disebut sebagai keturunan keenam melalui jalur Syits. Artinya, beliau lahir ketika dunia masih muda. Peradaban belum ramai. Belum ada notifikasi. Belum ada distraksi. Tapi justru di masa sesederhana itu, muncul manusia yang luar biasa tekun belajar.

Namanya saja “Idris”, dari kata darasa — belajar. Jadi kalau ada yang bilang, “Saya memang tipenya bukan anak buku,” mungkin perlu kenalan lebih dekat dengan beliau. Karena sejak zaman awal manusia, sudah ada yang serius membaca, menulis, dan berpikir.

Dalam berbagai riwayat disebutkan beliau adalah manusia pertama yang menulis dengan pena. Bayangkan itu. Saat sebagian orang mungkin masih sibuk urusan dunia yang sederhana, Idris sudah menggoreskan huruf. Sudah mencatat. Sudah berpikir sistematis. Kalau zaman sekarang, mungkin beliau sudah buka kelas online: “Belajar Menulis Sejak Sebelum Ada Kertas.”

Bukan cuma itu. Beliau juga memahami ilmu perbintangan. Langit yang bagi orang lain cuma gelap berbintang, bagi Idris adalah tanda-tanda kebesaran Allah. Kita sekarang lihat langit, yang dipikirkan kadang cuma, “Sinyal bagus nggak ya?”

Beliau juga dikenal sebagai orang pertama yang menjahit pakaian dan bekerja dari hasil tangannya sendiri. Jadi selain alim, beliau produktif. Selain rajin ibadah, beliau juga kerja. Ini penting. Karena kadang kita suka memisahkan: seolah-olah kalau sudah ibadah, tak perlu usaha. Padahal Nabi Idris menunjukkan bahwa iman dan kerja keras itu satu paket.

Konon beliau hidup sekitar 365 tahun menurut sebagian riwayat. Memang tidak ada dalil pasti tentang angka ini, tapi yang jelas beliau hidup lama. Sekarang bayangkan: kalau kita diberi umur sepanjang itu, kira-kira dipakai buat apa? Nonton series sampai tamat 200 musim? Atau upgrade diri setiap hari?

Di masa beliau, sebagian manusia mulai menyimpang dari tauhid. Mulai lupa arah. Tapi Idris tidak ikut arus. Beliau berdiri, berdakwah, mengajak kembali menyembah Allah. Tanpa pengeras suara. Tanpa viralitas. Tanpa trending topic. Hanya dengan kesabaran dan keteguhan.

Dalam Al-Qur’an, Allah memujinya sebagai sosok yang sangat jujur dan benar, dan menyebut bahwa Dia mengangkatnya ke tempat yang tinggi. Tinggi derajatnya. Tinggi kemuliaannya. Tinggi kedudukannya di sisi Allah. Dan itu bukan karena harta. Bukan karena popularitas. Tapi karena ilmu, kesabaran, dan ketakwaan.

Kopi sudah mulai tinggal setengah. Sahur sebentar lagi selesai. Tapi ada satu hal yang bisa kita bawa dari kisah Nabi Idris malam ini: sejak awal peradaban, manusia sudah diajari bahwa ilmu itu mulia. Belajar itu ibadah. Kerja itu kehormatan. Dakwah itu tanggung jawab.

Kalau generasi awal saja sudah punya manusia se-rajin itu, masa kita yang hidup di zaman serba mudah malah kalah semangat?

Seruput terakhir kopinya. Niatkan sahur bukan cuma untuk menahan lapar, tapi juga untuk menahan malas.

Karena mungkin kita tidak hidup 365 tahun. Tapi kita masih punya hari ini untuk mulai jadi sedikit lebih rajin dari kemarin.
Tags

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)