Edisi Ramadhan,  Tentang Kisah 25 Rasul. Tangis Pertama di Bumi: Ketika Nabi Adam AS Mengajarkan Arti Taubat

Admin RedMOL
0


TapSel Sumut, 19/2/2026, RedMol. Id
Sambil nunggu sahur, seruput dulu kopinya. Hangatnya biar sampai ke hati, karena kita mau ngobrol tentang manusia pertama. Bukan manusia pertama yang begadang nonton bola, tapi benar-benar manusia pertama yang hidup berkisar 1000 tahun di muka bumi: Nabi Adam AS.

Bayangkan, sebelum ada pasar, sebelum ada warung kopi, bahkan sebelum ada grup WhatsApp keluarga yang ribut tiap pagi, Allah sudah menciptakan Adam dari tanah. Tanah biasa. Bukan emas, bukan perak. Lalu Allah meniupkan ruh ke dalam dirinya. Dari tanah yang sederhana itu lahirlah makhluk paling mulia.

Baru diciptakan, Adam langsung dapat “kelas eksklusif” dari Allah. Dia diajarkan nama-nama segala sesuatu. Ini bukan sekadar pelajaran kosakata, tapi tanda bahwa kemuliaan manusia ada pada ilmu. Jadi kalau kita malas belajar, ingatlah: leluhur kita dulu lulus langsung dari sekolah langit.

Lalu datanglah momen yang bikin langit tegang. Allah memerintahkan para malaikat untuk sujud sebagai bentuk penghormatan kepada Adam. Semua taat. Kecuali satu: Iblis. Ia menolak karena merasa lebih hebat. “Aku dari api, dia dari tanah.” Kesombongan pertama dalam sejarah.

Kadang kita juga begitu, ya. Merasa lebih pintar, lebih kaya, lebih saleh. Padahal penyakit Iblis itu bukan kurang ibadah, tapi sombong. Dari situlah permusuhan panjang terhadap manusia dimulai.

Setelah itu Adam tinggal di surga bersama Hawa. Hidup nyaman, tanpa cicilan, tanpa deadline. Semua boleh dinikmati, kecuali satu larangan: jangan dekati pohon tertentu. Nah, manusia memang sering penasaran pada yang dilarang. Iblis pun membisikkan rayuan halus. Bukan dengan teriakan, tapi dengan janji manis.

Akhirnya Adam dan Hawa tergelincir. Mereka melanggar perintah. Dan dari situlah keduanya diturunkan ke bumi. Tapi di sinilah letak indahnya kisah ini: Adam tidak menyalahkan siapa-siapa. Ia tidak bilang, “Ini salah Hawa,” atau “Ini salah situasi.” Ia mengakui kesalahan dan memohon ampun.
Allah menerima taubatnya.

Di situ kita belajar, yang membuat Adam mulia bukan karena tak pernah salah, tapi karena ia tahu cara kembali. Kesalahan bukan akhir cerita. Yang bahaya itu gengsi untuk meminta ampun.

Di bumi, kehidupan manusia dimulai. Adam menjadi khalifah pertama. Dari beliau lahir banyak anak. Di antara yang terkenal adalah Qabil dan Habil. Ketika keduanya mempersembahkan kurban, kurban Habil diterima karena ketakwaannya, sementara kurban Qabil tidak. Iri hati membakar Qabil hingga ia membunuh saudaranya sendiri. Itulah pembunuhan pertama di bumi.

Pelajaran besar: dengki itu api. Ia bisa membakar persaudaraan, bahkan sebelum api neraka menyentuhnya.

Kisah Nabi Adam AS bukan sekadar cerita asal-usul. Ini kisah tentang ilmu, tentang kesombongan, tentang godaan, dan tentang taubat. Kita semua anak Adam. Punya potensi salah, tapi juga punya pintu ampunan yang selalu terbuka.

Jadi sambil nunggu sahur matang, coba cek hati masing-masing. Ada sombong yang belum dibereskan? Ada iri yang belum dipadamkan? Ada salah yang belum diakui?

Kalau manusia pertama saja pernah jatuh lalu bangkit, masa kita cuma jatuh lalu rebahan?

Seruput lagi kopinya. Sebentar lagi azan Subuh. Sebelum fajar datang, semoga hati kita sudah lebih terang.
Tags

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)