Tapanuli Selatan,14/2/2026Redmol.Id
Redmol.id~TombakRakyat.com, – Akhir pekan ini rasanya dunia mendadak berubah jadi taman bunga. Timeline serba pink. Notifikasi promo berdatangan lebih rajin dari mantan yang tiba-tiba sadar tanggal. Bunga naik harga tanpa rapat koordinasi, cokelat naik kasta, dan status WhatsApp penuh hati beterbangan seperti burung baru lulus kursus romantis.
Setiap 14 Februari, dunia seperti kompak bilang: “Hari ini wajib manis!” Padahal kalau ditarik jauh ke belakang, ceritanya tidak semanis cokelat diskon dua puluh persen. Konon dulu di Romawi kuno ada festival bernama Lupercalia. Jangan bayangkan ada paket dinner romantis, ya. Ini festival kesuburan, doa panen lancar, dan harapan hidup makin subur. Orang Romawi sibuk ritual, belum kenal bucket bunga, apalagi flash sale. Dulu yang disuburkan ladang. Sekarang? Keranjang belanja.
Zaman pun bergeser. Kekaisaran Romawi mulai dipengaruhi ajaran Kristen. Muncullah sosok bernama Valentine. Salah satu kisah populer menyebut ia imam pada masa Kaisar Claudius II. Nah, kaisar ini punya kebijakan unik: prajurit muda dilarang menikah. Alasannya? Kalau sudah jatuh cinta, semangat perang bisa luntur. Logika zaman itu sederhana: tentara jangan baper.
Tapi Valentine beda aliran. Ia diam-diam menikahkan pasangan muda. Mungkin prinsipnya, “cinta tak bisa diblokir regulasi.” Sayangnya, aksi romantis itu ketahuan. Ia dihukum mati sekitar tahun 269 M, tepat 14 Februari. Dari sini kita belajar: cinta memang butuh perjuangan. Tapi kalau bisa, jangan sampai berurusan dengan undang-undang kekaisaran.
Ada lagi legenda yang bikin makin sendu. Sebelum dihukum, Valentine kabarnya menulis surat untuk seorang gadis dan menutupnya dengan kalimat, “From your Valentine.” Coba bayangkan, dari surat terakhir itulah tradisi kartu cinta bermula. Dulu surat perpisahan penuh air mata. Sekarang kartu lucu dengan gambar beruang dan diskon spesial.
Masuk abad pertengahan di Inggris dan Prancis, tanggal 14 Februari dikaitkan dengan musim kawin burung. Orang percaya burung mulai mencari pasangan di hari itu. Jadi kalau sekarang kamu lihat foto couple dengan caption panjang dan emot hati berderet sampai bikin layar penuh, mungkin itu evolusi dari teori burung jatuh cinta. Bedanya, burung tak perlu filter, tak butuh ring light, dan tidak update story tiap lima menit.
Lama-lama tradisi berubah jadi budaya tukar kartu, bunga, dan cokelat. Industri tersenyum lebar, dompet tersenyum tipis. Harga mawar bisa bikin jantung berdebar lebih cepat daripada nembak gebetan. Cinta di etalase tampak mahal. Tapi cinta yang tulus? Sering kali sederhana dan tak perlu label harga.
Di balik semua keromantisan itu, Valentine adalah campuran unik antara ritual kuno dan kisah martir. Sejarahnya dramatis, sedikit absurd, dan penuh liku. Dari festival kesuburan, larangan menikah, sampai surat cinta terakhir—ujung-ujungnya sekarang kita sibuk memilih cokelat yang tidak bikin saldo terjun bebas.
Jadi kalau 14 Februari ini kamu rayakan dengan pasangan, keluarga, sahabat, atau bahkan sendirian sambil nonton film dan menyeruput kopi, santai saja. Cinta tidak selalu hadir dalam bentuk bunga mahal atau hadiah mewah. Kadang ia datang sebagai pesan sederhana, tawa kecil, atau seseorang yang mau mendengarkan cerita recehmu sampai habis.
Karena setelah promo lewat dan warna pink kembali jadi biasa, yang tersisa bukan buketnya, bukan cokelatnya. Tapi siapa yang tetap tinggal saat dunia kembali normal. Nah, itu baru cinta yang tidak perlu diskon.
(IAB)
