Kisah Ismail: Tenang Seperti Zamzam, Abadi Sepanjang Zaman

Admin RedMOL
0


Tapsel, 26/2/2026, Redmol.id 
 Sambil nunggu sahur, kopi sudah di tangan, mata masih negosiasi antara ngantuk dan pahala—yuk lanjut serial 25 Rasul Inspiratif edisi Ramadan. Ini episode kedelapan. Hari ini kita ngobrol santai tentang sosok yang kisahnya mengalir deras seperti air yang tak pernah kering: Nabi Ismail.

Beliau adalah putra dari Nabi Ibrahim dan Siti Hajar. Dalam tradisi Islam, beliau dikenal sebagai anak yang saleh, sabar, dan taat tanpa banyak drama. Dalam tradisi Yahudi dan Kristen, beliau dikenal dengan nama Ishmael. Secara perkiraan sejarah, beliau hidup sekitar abad ke-19 hingga ke-18 sebelum Masehi. Tapi kisahnya bukan sekadar angka tahun—ia hidup dalam ingatan iman miliaran manusia.

Cerita ini dimulai bukan di istana, bukan pula di kota ramai. Tapi di sebuah lembah tandus yang kalau zaman sekarang mungkin dibilang: “sinyal nihil, warung kosong, cuaca ekstrem.” Atas perintah Allah, Nabi Ibrahim membawa Siti Hajar dan bayi Ismail ke lembah yang kini kita kenal sebagai Mekkah. Bayangkan, seorang ibu dan bayi ditinggalkan di tempat sunyi. Bukan karena tak cinta, tapi karena taat.

Ketika air habis dan tangis bayi pecah, Siti Hajar berlari antara Shafa dan Marwah. Sekali, dua kali… sampai tujuh kali. Itu bukan lari kecil cari diskon, itu lari antara harap dan pasrah. Lalu dari hentakan kaki kecil Ismail, muncullah air Zamzam. Dari lembah sepi, tiba-tiba ada “sumur unlimited edition”. Sampai sekarang airnya masih mengalir. Masyaallah, bukan sekadar mukjizat, tapi bukti bahwa pertolongan Allah kadang muncul dari arah yang tak kita duga.

Ismail tumbuh. Dari bayi di lembah sunyi menjadi remaja yang diuji dengan perintah yang tak masuk logika: penyembelihan. Saat ayahnya menyampaikan wahyu itu, Ismail tidak protes, tidak membuat petisi keluarga. Ia berkata agar ayahnya melaksanakan perintah tersebut. Kepasrahan yang bukan karena lemah, tapi karena yakin. Dan Allah menggantinya dengan hewan sembelihan. Peristiwa ini yang kita kenang setiap Iduladha.

Kelak, Ismail menikah dengan perempuan dari kabilah Jurhum, memiliki 12 anak, dan dari garis keturunannya lahir Nabi Muhammad. Bersama ayahnya Ibrahim, ia membangun kembali Ka'bah—bukan cuma bangunan batu, tapi pusat arah hidup miliaran manusia.

Dalam riwayat Islam, Nabi Ismail wafat pada usia sekitar 137 tahun dan dimakamkan di sekitar Hijaz, dekat Ka’bah. Mukjizatnya bukan hanya Zamzam, tapi juga kesabaran, ketaatan, dan kontribusinya membangun peradaban di tanah suci.

Sambil menyeruput sisa kopi sahur, kita jadi mikir. Kita sering mengeluh karena antre panjang, jaringan lemot, atau rencana batal. Padahal, ada seorang bayi yang memulai sejarah di lembah tandus. Ada seorang remaja yang lulus ujian tanpa debat.

Kisah Nabi Ismail adalah kisah tentang kepatuhan yang tidak berisik, pengorbanan yang tidak pamer, dan iman yang tidak goyah. Seperti Zamzam, ia mengalir tenang—tapi menghidupi banyak orang.

Kisah Nabi Ismail itu seperti Zamzam: tenang, tidak berisik, tapi menghidupi. Kalau sahur ini terasa sunyi, ingat saja—kadang dari tempat paling sepi, Allah sedang menulis cerita paling besar.
(IAB)
Tags

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)