Aroma Konservasi dalam Secangkir Kopi: Apes for Apes Kopi di Ekosistem Batang Toru?

Admin RedMOL
0


Tapsel 5/2/2026, Redmol. Id
Berangkat dari sebuah gagasan besar, Program Apes For Apes Kopi mencoba menjahit dua dunia yang sama-sama sarat makna: secangkir kopi dan nasib kera besar, khususnya orangutan Tapanuli—salah satu spesies paling langka di dunia. Diperkenalkan sekitar akhir 2023 hingga awal 2024, program ini tergolong muda jika dibandingkan dengan panjang dan peliknya sejarah konservasi di bentang alam Batang Toru. Narasi yang dibangun terdengar nyaris sempurna: kopi ditanam petani lokal, dipasarkan secara etis, lalu sebagian nilai ekonominya dialirkan kembali untuk mendukung perlindungan habitat orangutan. Sebuah cerita yang mudah disukai dan luwes dibawa ke berbagai panggung.

Dari penelusuran dan wawancara penulis, program ini dikelola oleh Kelompok Usaha Bersama (KUB) Tando Sira Maju Bersama, sebuah komunitas petani kopi yang terbentuk dua tahun lalu di Desa Tanjung Dolok, Kecamatan Marancar, Kabupaten Tapanuli Selatan; nama Tando Sira sendiri merupakan singkatan dari enam wilayah, yakni Tanjung Folok, Hunatas, Siranap, Marancar Julu, Simaninggir, dan Aek Nabara, yang menjadi basis kerja kolektif para petani. KUB ini melibatkan Pittor Romatua Pasaribu dan Wahdi Parulian Hutapea, serta enam perempuan—Masohur Pasaribu, Nurhamiah, Debora, Dorharlan, Dormauli Simanjuntak, Hotna Sari Ritonga, dan Hairani Rambe—dengan dukungan 18 petani mitra, sementara dalam implementasinya Panutungan Orangutan Conservation Foundation (PRCF) dan Sumatra Rainforest Institute (SRI) berperan sebagai lembaga pendamping utama yang menjembatani kepentingan ekonomi petani dengan agenda konservasi orangutan.

Namun, seperti kopi yang harum di aroma tetapi belum tentu utuh di rasa, cerita ini mulai menyisakan tanda tanya ketika dibaca lebih dekat. Apes For Apes Kopi kerap diperkenalkan sebagai pertemuan mulia antara kopi dan konservasi orangutan Tapanuli, tetapi detail lapangan justru tampil samar. Program ini disebut berjalan di sekitar ekosistem Batang Toru—sebuah kawasan luas dan kompleks yang tak bisa direduksi menjadi satu istilah abstrak. Publik lebih sering disuguhi nama lembaga pendamping dan mitra pasar ketimbang kisah konkret dari kebun: di mana persisnya kopi ditanam, bagaimana pola tanamnya, dan perubahan apa yang terjadi di tingkat tapak.

Padahal konteks Batang Toru menuntut kejelasan. Kawasan ini membentang di tiga kabupaten—Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan—dengan tekanan ekologis yang berbeda-beda. Dengan populasi orangutan Tapanuli yang diperkirakan tersisa sekitar 800 individu, setiap pembukaan lahan baru, sekecil apa pun, berpotensi memutus koridor dan mengganggu habitat. Dalam situasi ini, konservasi berbasis kopi tidak cukup hanya mengusung label “ramah lingkungan”.

Di sinilah agroforestri seharusnya menjadi inti, bukan sekadar jargon. Secara ekologis, kopi adalah tanaman hutan. Ia ideal ditanam di bawah naungan, berdampingan dengan pohon keras dan vegetasi asli. Sistem agroforestri memungkinkan petani meningkatkan pendapatan tanpa membuka hutan baru, sekaligus menjaga struktur lanskap yang penting bagi pergerakan satwa liar. Jika Apes For Apes Kopi sungguh berpijak pada konservasi, maka pertanyaan kuncinya sederhana: apakah kebun kopi yang didampingi benar-benar dikelola dengan prinsip agroforestri? Apakah ada batas tegas untuk tidak memperluas kebun ke kawasan berhutan? Dan bagaimana praktik ini dipantau serta dijadikan standar bersama?

Tanpa jawaban yang terbuka atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, konservasi berisiko berhenti di level narasi. Kritik ini tidak dimaksudkan untuk menafikan niat baik, melainkan untuk menguji keseriusan. Program dengan pesan global memerlukan detail lokal yang konkret dan dapat ditelusuri. Seperti kopi yang baik, publik tidak menuntut rasa yang berlebihan. Cukup satu hal agar kisah kopi dan orangutan ini benar-benar membumi: transparansi praktik agroforestri di tingkat kebun. Tanpanya, Apes For Apes Kopi berisiko tinggal sebagai cerita indah—bukan ikhtiar nyata menjaga hutan dan masa depan orangutan Tapanuli.

(Penulis: Irwan Alimuddin Batubara, Ketua MPIG Kopi Tapanuli Selatan)

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)