
Mandailing Natal, 22/12/2025, Redmol. Id ~ Nama H. Saipullah Nasution mungkin sudah akrab di telinga masyarakat Mandailing Natal. Ia adalah sosok yang kini dipercaya memimpin Madina, tapi perjalanan hidupnya jauh lebih panjang daripada masa jabatannya sebagai bupati. Lahir pada 30 September 1961 di Gunung Baringin, Saipullah tumbuh sebagai anak Mandailing yang akrab dengan nilai adat, kerja keras, dan rasa tanggung jawab. Sejak muda, ia sudah terbiasa merantau demi menimba ilmu dan pengalaman.
Selepas menamatkan pendidikan dasar di kampung halaman, Saipullah melanjutkan sekolah hingga ke kota besar. Hidup di perantauan menempa karakternya: disiplin, sederhana, dan tidak mudah menyerah. Sebelum cerita berlanjut lebih jauh, seruput dulu kopi Mandailing—kopi hitam yang kuat aromanya, pahitnya pas, dan meninggalkan kesan mendalam. Begitulah kira-kira perjalanan hidup Saipullah, pelan tapi meninggalkan jejak.
Kariernya kemudian banyak dihabiskan sebagai pegawai negeri sipil di Kementerian Keuangan Republik Indonesia, khususnya di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Bukan satu atau dua jabatan yang ia emban, melainkan sederet posisi strategis, mulai dari daerah hingga pusat. Ia pernah menjadi Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai di beberapa provinsi dan menduduki jabatan direktur sebelum akhirnya pensiun pada tahun 2021. Puluhan tahun di birokrasi membuatnya terbiasa bekerja dengan sistem, data, dan ketepatan.
Alih-alih menikmati masa pensiun dengan tenang, Saipullah justru memilih pulang kampung. Ia melihat Mandailing Natal sebagai tanah yang kaya potensi, namun masih membutuhkan sentuhan pengelolaan yang lebih baik. Dari situlah muncul niat untuk ikut membangun daerahnya sendiri. Bersama Atika Azmi Utammi, ia maju dalam Pilkada Mandailing Natal 2024 dan mendapatkan kepercayaan masyarakat untuk memimpin Madina pada periode 2025–2030.
Sebagai bupati, Saipullah tidak banyak tampil dengan gaya berlebihan. Ia dikenal tenang, lebih suka bekerja daripada berbicara. Fokus utamanya adalah kesejahteraan masyarakat, pembenahan birokrasi, serta pemanfaatan potensi lokal seperti pertanian, perkebunan, dan pariwisata. Pengalaman panjang di pemerintahan pusat menjadi modal penting dalam menata roda pemerintahan daerah agar lebih tertib dan efisien.
Di luar ruang kerja, Saipullah tetap tampil sebagai orang Mandailing pada umumnya: sederhana dan dekat dengan masyarakat. Ia sering hadir di acara adat, keagamaan, dan kegiatan sosial, menyapa warga tanpa jarak. Baginya, memimpin Madina bukan sekadar jabatan, melainkan amanah. Dari perantau, birokrat, hingga bupati, Saipullah Nasution adalah cerita tentang pulang, mengabdi, dan bekerja dengan hati untuk tanah kelahiran.
Minum pagi kopi Mandailing,
Burung terbang riang di pagi hari.
Saipullah bupati sederhana dan tenang,
Hati untuk rakyat selalu dihati.
Terdengar alun gordang sambilan,
Mengiringi adat penuh suka cita.
Ia menyapa warga tanpa jarak,
Memimpin Madina amanah nyata.
Dari perantau pulang ke kampung,
Birokrat jadi bupati penuh bakti.
Bekerja dengan hati dan ketulusan,
Saipullah Nasution teladan bagi Madina ini.
(IAB)
