
Tapanuli Selatan, 22/12/2025 – Redmol.id
Hari Ibu tahun ini terasa berbeda di Utara Sumatera. Tak ada bunga atau ucapan manis, hanya hujan deras yang mengguyur tanpa henti. Sungai meluap, longsor menelan rumah, dan lumpur bercampur reruntuhan memenuhi desa-desa.
Di tengah bencana, cinta seorang ibu tetap bersinar—meski hanya dalam kenangan.Di Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, pada 27 November 2025, Erik Andesra menghadapi duka mendalam. Ibunya, Ernita (58), tertimbun longsor saat sholat di rumah. Tim penyelamat kesulitan mengevakuasi. Tanpa ragu, Erik menyewa eskavator sendiri.
Lumpur dan batu beterbangan saat alat berat itu bekerja. Tubuhnya basah kuyup, tapi matanya tak lepas dari reruntuhan.“Ma… aku datang! Aku tidak akan menyerah!” teriaknya, suaranya nyaris hilang di gemuruh hujan. Akhirnya, tubuh ibunya ditemukan dengan mukena basah.
Erik menunduk, memeluk, dan menangis sambil menggenggam tangannya—seolah menyampaikan semua kata tak terucap. Kisah ini jadi simbol pengorbanan anak untuk ibu, cinta tanpa batas.Serupa di Kelurahan Angin Nauli, Kecamatan Sibolga Utara, pada 1 Desember 2025. Aipda Simson Pakpahan dari Satbrimob Polda Sumut berlari menembus hujan, seragam dan sepatunya penuh lumpur. Ia mencari ibunya di antara puing longsor.
Saat tim SAR bekerja, ia menemukannya: terbaring dingin di antara kayu dan tanah.“Ma… Ma…” tangisnya pecah, tertelan derasnya air. Ia berbisik, “Terima kasih, Ma, untuk semua yang kau lakukan.
Aku akan selalu mencintaimu.” Hari Ibu berubah jadi duka, sekaligus penghormatan pada kasih abadi seorang ibu.Kisah serupa bermunculan di berbagai daerah. Seorang ibu menahan anaknya di rumah saat banjir setinggi pinggang, memeluk erat sambil bilang, “Tenang, Nak, Ma ada di sini.
Kau aman.” Ada yang membagi makanan tersisa untuk tetangga meski lapar. Ada pula yang menahan air mata agar anak tetap kuat. Di reruntuhan, mereka jadi pelindung dan pahlawan tanpa tanda jasa.Hari Ibu 2025 mengajarkan: cinta ibu tak terhitung, tak tergantikan, dan abadi meski bencana melanda.
Di balik lumpur dan genangan air, pengorbanan mereka tetap menyala, menginspirasi ketangguhan. Hari Ibu bukan sekadar hadiah, tapi penghormatan pada keberanian dan kasih tak padam.Selamat Hari Ibu 2025.
Untuk ibu yang telah pergi, kami tunjukkan duka sekaligus cinta dalam doa. Meski pelukan tak sempat diberikan, kehangatanmu hidup dalam langkah kami, tetes hujan, dan reruntuhan. Kasihmu abadi, cahaya di kegelapan dunia. (IAB)
