Tapsel Sumut, 30/12/225, RedMol. Id
Hei, pernah nggak sih kamu duduk sebentar, menatap kalender, terus mikir, “Wah, setahun ini cepat banget berlalu”? Nah, kalender yang kita pakai sehari-hari itu namanya kalender Gregorian. Diperkenalkan Paus Gregorius XIII pada 1582, tujuannya simpel tapi penting: supaya hari-hari di kalender nggak nyasar dari gerakan bumi mengelilingi matahari. Bayangin kalau nggak akurat: musim panen salah, liburan nyasar, bahkan Natal bisa jatuh di musim panas—serius, bayangin salju Natal di pantai!
Setahun terbagi 12 bulan, tapi jangan kira semuanya sama. Januari datang penuh semangat, semua orang sibuk bikin resolusi—ehm, yang biasanya bertahan cuma seminggu, kamu termasuk nggak nih? Februari si pendek kadang cuma 28 hari, kadang 29 kalau tahun kabisat, bikin kita semua geleng-geleng kepala, “Kok cepet banget ya habisnya?” Maret mulai hujan-hujanan, April suka bikin prank dengan hujan mendadak—kamu pernah kena prank April Fools nggak? Mei bikin bunga mekar dan mood ceria, Juni-Juli-Agustus panas terik, bikin kita lari cari es krim nonstop. September mulai serius lagi, Oktober muncul dengan Halloween-nya, November sedikit sedih karena daun-daun berjatuhan.
Dan kemudian… Desember datang. Ah, Desember, bulan spesial yang selalu menutup tahun dengan angka 31 yang mantap. Bukan kebetulan, ini memang desain kalender—akhir tahun harus lengkap sebelum Januari membuka lembaran baru. Desember itu kaya karakter utama di film, lengkap dengan drama, keceriaan, dan sedikit keajaiban. Di belahan utara, dia datang dengan hawa dingin menusuk, hari pendek, malam panjang, sempurna untuk selimut, cokelat panas, dan merenung.
Bulan ini juga penuh perayaan: Natal dengan lampu berkelap-kelip, Hanukkah dengan cahaya lilin, Kwanzaa, dan tentu saja Tahun Baru. Kadang langit ikut meriah: hujan salju pertama turun, meteor Geminid menari-nari di malam gelap—serasa semesta ikut berpesta. Dan kamu, pembaca, udah siap belum untuk ikut pesta kecil ini di rumah atau di hati?
Secara filosofi, Desember ngajak kita refleksi: “Apa yang sudah tercapai tahun ini?” “Apa yang masih harus diperbaiki?” Ada rasa syukur, harapan, sedikit nostalgia, dan tawa karena resolusi tahun lalu mungkin cuma separuh tercapai—eh, kamu termasuk yang mana nih? Tapi nggak apa-apa, karena setiap akhir selalu memberi peluang baru.
31 Desember bukan sekadar angka terakhir di kalender. Dia pengingat bahwa setiap akhir adalah awal dari sesuatu yang baru. Tarik napas dalam-dalam, rasakan detik-detik terakhir tahun ini, dan sambut lembaran baru dengan semangat.
Selamat Tahun Baru 2026! Semoga lembaran baru ini penuh tawa, petualangan, dan pengalaman seru yang tak terduga. Mari buka tahun baru dengan hati hangat, pikiran terbuka, dan sedikit keberanian untuk membuat cerita baru yang lebih seru dari sebelumnya.
(IAB)
