Tapsel, 2/3/2026, Redmol.id ~ Kemarin kita sudah ngobrol santai tentang Nabi Yusuf—yang ketampanannya bikin para wanita sampai salah potong buah. Tampan level bikin pisau kehilangan fokus. Nah, kalau Yusuf diuji lewat pesona, hari ini kita pindah channel ke ujian yang beda drastis: kisah Nabi Ayyub—yang diuji bukan dengan wajah, tapi dengan luka di sekujur tubuh.
Sambil nunggu sahur, seruput dulu kopinya pelan-pelan. Biar mata yang masih setengah sadar itu naik tegangannya sedikit demi sedikit. Jam segini memang paling enak buat merenung—perut masih damai, grup WhatsApp belum ribut, dan mie instan belum menggoda iman dengan bisikan, “Ayolah… cuma setengah bungkus.”
Nah, mumpung suasana hening dan kopi masih mengepul, kita simak kisah sabar kelas langit: cerita tentang Nabi Ayyub AS. Ini bagian dari serial 25 Rasul Inspiratif edisi Ramadan. Tenang, ini bukan ceramah berat yang bikin kopi mendadak pahit. Kita santai saja, tapi tetap khidmat.
Di antara para nabi yang dikenal karena keteguhan hatinya, Nabi Ayyub selalu disebut sebagai simbol kesabaran tanpa batas. Tapi sabar beliau bukan tipe “diam sambil manyun.” Ini sabar yang hidup. Sabar yang tetap hangat walau badai datang tanpa aba-aba.
Secara sejarah, para ulama memperkirakan beliau hidup sekitar abad ke-15 hingga ke-13 sebelum Masehi. Masih punya garis keturunan dari Nabi Ibrahim AS dan tinggal di wilayah Syam—kira-kira Palestina sampai Yordania sekarang. Usianya? Disebut sekitar 93 tahun, bahkan ada yang bilang lebih dari 100 tahun. Umurnya panjang, ujiannya juga panjang. Paket komplit.
Bayangkan fase awal hidupnya. Harta melimpah. Ternak banyak. Anak sekitar 14 orang—7 laki-laki, 7 perempuan. Rumah tangga tenteram, badan sehat, hidup stabil. Kalau zaman sekarang mungkin setara hidup tanpa cicilan, bensin selalu cukup, dan sinyal selalu 5G. Pokoknya full bar.
Lalu ujian datang. Bukan satu. Bukan dua. Tapi bertahap, seperti cicilan yang tak pernah kita ajukan. Hartanya habis. Anak-anaknya wafat. Tubuhnya diuji penyakit berat bertahun-tahun. Kulit rusak, badan lemah, banyak orang menjauh. Dalam kondisi begitu, manusia biasa mungkin sudah bikin status panjang di media sosial: “Capek ya Allah…”
Kita saja kadang WiFi lemot lima menit sudah merasa dizalimi semesta. Baru hujan sedikit, cucian tak kering, sudah merasa hidup tak adil.
Tapi Nabi Ayyub tidak mengadu pada manusia. Lisannya tetap lembut. Hatinya tetap terhubung. Doanya yang diabadikan dalam Al-Qur’an begitu sederhana, tapi dalam sekali:
“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.”
Bukan protes. Bukan drama. Tidak ada kalimat, “Kenapa aku?” Yang ada hanya pengakuan lembut dan penuh harap. Beliau tidak meragukan kasih sayang Allah, meski tubuhnya sedang rapuh.
Di sampingnya, ada sosok istri salehah—dalam sebagian riwayat disebut bernama Rahmah. Saat yang lain menjauh pelan-pelan seperti sinyal yang hilang, beliau justru tetap tinggal. Saat kondisi makin sulit, kesetiaannya makin kuat. Cinta yang tidak bergantung pada sehat atau sakit. Kalau sekarang mungkin kita menyebutnya: “support system premium tanpa biaya langganan.”
Hingga akhirnya pertolongan Allah datang. Nabi Ayyub diperintahkan menghentakkan kaki ke tanah. Dari situ memancar air. Dengan air itu beliau mandi dan minum. Seketika penyakitnya sembuh. Badannya kembali sehat. Tidak hanya kesehatan yang pulih, hartanya dikembalikan, keluarganya diganti dan dilipatgandakan. Dari titik paling gelap, menuju cahaya yang berlipat.
Menjelang azan Subuh, kopi tinggal ampas. Langit pelan-pelan berubah warna. Dari kisah ini kita belajar: sabar bukan berarti tidak merasa sakit. Sabar adalah tetap percaya saat keadaan terasa runtuh. Ujian bukan tanda Allah membenci, tapi cara-Nya menaikkan derajat hamba.
Jadi kalau hidup terasa berat, ingat kisah Nabi Ayyub. Mungkin kita belum diuji separsepuluhnya. Tapi kita bisa belajar satu hal: tetap bersandar, tetap percaya.
Sebelum azan berkumandang dan mie instan kembali berbisik, mari teguk sisa kopi itu. Semoga hati ikut hangat, iman tetap menyala, dan kesabaran kita—walau belum level Nabi Ayyub—setidaknya sudah naik satu tingkat malam ini.
(IAB)
