TAPANULI SELATAN, Redmol.id – Hujan deras yang terus mengguyur Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) kembali memicu banjir susulan di sejumlah desa yang berada di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Batangtoru, Jumat (2/1/2026). Akibatnya, sejumlah rumah warga dan ruas jalan kembali terendam air, memperparah dampak bencana yang telah berlangsung sejak akhir November 2025.
Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan Pasaribu, menjelaskan bahwa tingginya curah hujan menyebabkan aliran Sungai Batangtoru mengalami sedimentasi berat akibat banjir bandang sebelumnya. Kondisi tersebut memicu terbentuknya alur sungai baru yang justru masuk ke kawasan permukiman warga di sepanjang DAS Batangtoru.
“Banjir terjadi di semua desa dan dusun yang berada di DAS Batangtoru, baik di Kecamatan Batangtoru maupun Kecamatan Angkola Sangkunur, termasuk anak-anak sungai yang bermuara ke Sungai Batangtoru,” ujar Gus Irawan melalui pesan singkat, Sabtu (3/1/2026), dikutip dari Kompas.com.
Wilayah yang kembali terdampak banjir di antaranya Dusun Benteng, Desa Hapesong Baru (Kecamatan Batangtoru), serta Desa Bandar Tarutung dan Dusun Sibarabara di Desa Simataniari (Kecamatan Angkola Sangkunur). Bahkan, genangan air di Dusun Benteng tetap terjadi meskipun hujan sempat berhenti, sementara di Dusun Sibarabara ketinggian air kembali bertambah saat hujan turun kembali.
Gus Irawan menegaskan, langkah mendesak yang perlu dilakukan adalah normalisasi sungai agar warga yang sebelumnya sudah kembali ke rumah tidak harus kembali mengungsi. Menurutnya, perubahan alur sungai menjadi ancaman serius jika tidak segera ditangani.
Berdasarkan data terbaru Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tapsel per 3 Januari 2026, jumlah korban meninggal dunia akibat banjir dan longsor di Tapanuli Selatan telah mencapai sekitar 81 orang. Selain itu, sebanyak 33 orang dilaporkan masih hilang dan 77 lainnya mengalami luka-luka.
Hingga kini, banjir masih menjadi ancaman nyata, terutama bagi daerah-daerah yang terisolasi seperti Desa Bandar Tarutung. Pemerintah daerah bersama aparat TNI-Polri dan relawan terus melakukan penanganan darurat, evakuasi, serta investigasi terhadap faktor lingkungan yang diduga memperparah bencana.
Peristiwa ini menegaskan bahwa bencana banjir dan longsor yang melanda Tapanuli Selatan sejak akhir November 2025 masih memberikan dampak serius hingga awal Januari 2026, sekaligus menjadi peringatan penting akan perlunya penanganan lingkungan dan tata kelola DAS secara berkelanjutan.
(IAB)
